DPD Soroti Banjir Berulang di Jakarta Timur, Tekankan Perbaikan Drainase dan Tata Ruang

DPD Soroti Banjir Berulang di Jakarta Timur, Tekankan Perbaikan Drainase dan Tata Ruang

Anggota DPD dari daerah pemilihan Jakarta, Achmad Azran, menyoroti banjir yang kerap berulang di wilayah Jakarta Timur. Sejumlah kawasan seperti Cawang, Kampung Melayu, serta permukiman di sepanjang bantaran Kali Ciliwung disebut sering terdampak saat hujan deras mengguyur Jabodetabek.

Azran menilai persoalan banjir di Jakarta Timur perlu dibaca secara komprehensif dan berbasis data. Ia menyebut Jakarta Timur memiliki luas sekitar 188 kilometer persegi dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, menjadikannya wilayah administratif terluas sekaligus salah satu yang terpadat di Provinsi Jakarta.

Menurutnya, di beberapa kecamatan seperti Jatinegara dan Kramat Jati, kepadatan penduduk telah mencapai 15.000 jiwa per kilometer persegi. Kondisi tersebut, kata Azran, berdampak pada meningkatnya koefisien limpasan air hujan.

Ia juga menyoroti berkurangnya daya serap tanah akibat makin banyaknya kawasan tertutup beton dan aspal. Dampaknya, setiap hujan berintensitas tinggi, air langsung mengalir ke saluran drainase yang kapasitasnya dinilai sering kali tidak memadai.

“Kita tidak bisa terus menyederhanakan masalah banjir hanya sebagai akibat hujan deras,” kata Azran dalam keterangannya, Sabtu (2/1/2/2026).

Azran turut menyinggung fenomena backwater effect, yakni kondisi air tertahan akibat pertemuan debit yang tinggi dengan kapasitas sungai yang terbatas, sehingga genangan dapat bertahan lebih lama. Ia menyebut program normalisasi sungai memang telah dilakukan di sejumlah segmen, namun pendekatan tersebut dinilai belum sepenuhnya menyentuh sistem drainase mikro di tingkat lingkungan.

“Masalah utama kita adalah integrasi. Sungai utama mungkin sudah diperlebar, tetapi saluran lingkungan tidak ikut ditingkatkan kapasitasnya. Banyak drainase sekunder dan tersier yang dimensinya masih seperti puluhan tahun lalu, padahal kepadatan bangunan sudah berlipat,” ujarnya.

Selain itu, Azran menekankan perlunya pengawasan terhadap kualitas teknis dan efektivitas lokasi pembangunan sumur resapan. Ia menilai sumur resapan dapat menjadi solusi signifikan jika ditempatkan pada zona dengan tingkat limpasan tinggi serta memenuhi standar kedalaman dan material penyaring yang tepat.

“Sumur resapan bukan sekadar proyek kuantitas. Ia harus menjadi bagian dari sistem hidrologi kota yang dirancang dengan perhitungan teknis. Jika dilakukan dengan benar, ia bisa menurunkan beban saluran hingga puluhan persen saat puncak hujan,” katanya.

Azran juga mendorong penguatan ruang terbuka hijau sebagai infrastruktur hijau kota. Ia mengusulkan agar taman-taman kota di Jakarta Timur tidak hanya difungsikan sebagai area rekreasi, tetapi juga sebagai area retensi dan resapan air.

“Taman kota harus menjadi bagian dari solusi banjir. Desain lanskap bisa dibuat cekung pada titik tertentu untuk menampung air sementara saat hujan ekstrem,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan penanganan banjir perlu dilakukan dengan pendekatan dari hulu hingga hilir. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan pemerintah daerah di kawasan hulu menjadi kunci agar pengendalian debit air dapat dilakukan secara sistematis.