Dosen Sosiologi UBB: Caleg Perlu Pahami Dinamika Arena dan Ragam Modal Penentu Hasil Pemilu

Dosen Sosiologi UBB: Caleg Perlu Pahami Dinamika Arena dan Ragam Modal Penentu Hasil Pemilu

Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB), Herza, menilai ada sejumlah hal mendasar yang kerap luput dipahami calon anggota legislatif (caleg) saat terjun dalam kontestasi pemilihan umum (pemilu). Menurutnya, kelalaian memahami aspek-aspek ini bukan hanya dapat memengaruhi hasil akhir, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis caleg setelah pengumuman hasil pemilu.

Herza menyoroti bahwa kontestasi pemilu berlangsung dalam arena yang sangat dinamis. Ia menggambarkan arena tersebut sarat perubahan, intrik para aktor, dan konstelasi yang bisa sulit diprediksi. Salah satu penyebabnya, kata dia, karena penentu kemenangan adalah para pemilih yang merupakan individu “hidup” dan aktif memaknai pengalaman mereka, termasuk memaknai proses pemilu.

Dalam situasi itu, pemilih dinilai dapat merespons setiap caleg yang mendekati mereka. Karena itu, Herza mengingatkan caleg agar tidak menganggap pernyataan dukungan dari seseorang sebagai jaminan pasti pada hari pencoblosan. Ia menekankan bahwa pemilih, sebagai makhluk sosial yang dinamis, dapat mengubah pilihan menjelang pemungutan suara karena pengaruh lingkungan sosial, intensitas interaksi, maupun strategi dari kontestan lain.

Selain pemilih, dinamika arena juga dipengaruhi oleh kehadiran kontestan lain yang sama-sama kreatif, memiliki strategi, dan mengamati gerak langkah lawan. Kondisi itu, menurut Herza, membuat persaingan perebutan kursi legislatif penuh ketidakpastian.

Herza juga mengkritik pandangan sebagian caleg yang merasa kemenangan dapat dipastikan hanya dengan mengandalkan satu jenis modal, misalnya modal ekonomi. Ia menyebut keyakinan berlebihan semacam itu berisiko memunculkan ekspektasi tinggi dan sikap terlalu percaya diri, padahal arena pemilu bersifat dinamis dan tidak pasti.

Untuk menjelaskan hal tersebut, Herza mengacu pada pemikiran sosiolog Prancis Pierre Bourdieu. Dalam perspektif Bourdieu, pemenang dalam perebutan posisi sosial ditentukan oleh dinamika kepemilikan modal serta strategi penggunaan modal yang sesuai dengan arena tempat para aktor berjuang. Herza menyebut setidaknya ada empat jenis modal yang berperan, yakni modal budaya, modal sosial, modal ekonomi, dan modal simbolik.

Dalam konteks pemilu, Herza menegaskan kemenangan tidak otomatis ditentukan oleh akumulasi satu modal saja. Ia menilai ada wilayah tertentu yang pemilihnya mungkin lebih mudah dipengaruhi oleh kekuatan modal ekonomi, tetapi pola itu tidak selalu berlaku di semua tempat.

Ia mencontohkan, sebagian pemilih justru lebih potensial dipengaruhi oleh modal sosial, seperti kemampuan caleg menjalin hubungan, membangun kepercayaan, dan merawat relasi dengan masyarakat. Menurutnya, caleg yang tidak mengandalkan pengeluaran besar, tetapi fokus membangun komunikasi dan kedekatan dengan pemilih hingga tumbuh keyakinan bahwa caleg tersebut akan memperjuangkan kepentingan warga, memiliki peluang besar untuk dipilih. Herza menyebut inilah kekuatan modal sosial.