Hoaks dapat menyasar siapa saja, termasuk ilmuwan dan institusi pendidikan. Informasi keliru semacam ini perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Sejumlah klaim menyesatkan yang beredar di media sosial dan aplikasi percakapan belakangan ini menyeret nama ilmuwan serta kampus ternama. Berikut dua contoh hoaks yang sempat ramai dibagikan.
1. Klaim penangkapan ilmuwan Harvard karena menjual virus Covid-19 ke China
Sebuah video beredar di media sosial dan aplikasi percakapan yang diklaim menunjukkan penangkapan ilmuwan Universitas Harvard, Charles Lieber, karena disebut menjual virus Covid-19 ke China. Unggahan itu kembali ramai dibagikan, salah satunya di Facebook pada 22 Mei 2022.
Dalam unggahan tersebut, terdapat video berdurasi 1 menit 44 detik dengan judul “Alhamdulillah, biang Corona nya udah tertangkap”. Video itu juga disertai narasi yang menyebut, “Charles Lieber hari ini beberapa saat setelah penangkapannya di kantornya di Havard”, serta tambahan keterangan, “SEKILAS INFO PENJUAL VIRUS CORONA KE CHINA DITANGKAP”.
Klaim yang menyertai video tersebut dinyatakan tidak benar.
2. Klaim ilmuwan IPB membuat model 3D wajah nenek moyang pertama dari Nusantara
Hoaks lain yang beredar mengklaim ilmuwan dari IPB berhasil merekonstruksi wajah 3D nenek moyang manusia purba dari Nusantara. Konten ini ditemukan beredar di Facebook, salah satunya diunggah pada 31 Juli 2026.
Unggahan tersebut menampilkan gambar wajah 3D seseorang dengan narasi, “Hebat! Ilmuwan IPB Berhasil Merekonstruksi Wajah 3D Nenek Moyang Manusia Purba dari Nusantara”.
Selain itu, unggahan juga memuat penjelasan panjang yang menyatakan penelitian dilakukan dengan mempelajari fosil, tulang, dan tengkorak dari Ngawi, Jawa Timur, lalu membandingkannya dengan manusia modern serta primata lain untuk menyusun estimasi rupa manusia purba. Di bagian lain, pengunggah menambahkan komentar bernada sindiran, “Sapa juga yg mau punya nenek moyang macem gini”.
Klaim bahwa IPB membuat rekonstruksi 3D wajah nenek moyang manusia purba dari Nusantara tersebut dinyatakan tidak benar.
Maraknya konten semacam ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian saat menerima dan membagikan informasi, terutama yang mencatut nama ilmuwan atau lembaga akademik. Verifikasi diperlukan agar publik tidak terpengaruh narasi yang menyesatkan.