Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya penataan kembali alam sebagai pesan utama dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang digelar di Cianjur, Rabu (6/5/2026). Ia menilai ancaman terbesar saat ini adalah ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam yang memicu berbagai bencana, termasuk di Kabupaten Cianjur.
Usai menghadiri kirab budaya di halaman Pendopo Cianjur, Dedi mengatakan sejumlah kejadian di Cianjur menunjukkan adanya kondisi yang tidak lazim. Ia mencontohkan banjir yang terjadi di wilayah dataran tinggi, yang menurutnya berbeda dari pola umum banjir yang lazim terjadi di daerah dataran rendah.
Dedi juga mengaku kembali menerima informasi mengenai kejadian longsor di Cianjur. Menurutnya, hal itu menjadi penanda perlunya pembenahan tata ruang di Jawa Barat.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah provinsi telah membenahi tata ruang dan saat ini hanya ada satu tata ruang yang telah disepakati, yakni tata ruang Provinsi Jawa Barat. Dedi menyebut pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat telah menyepakati arah tata ruang tersebut, yang nantinya wajib diikuti seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat.
“Jadi nanti kabupaten mengikuti apa yang ditetapkan provinsi dan ini sudah kita sepakati dengan dirjen tata ruang,” kata Dedi. Ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut telah dibahas dalam pertemuan dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR).
Meski menilai pertumbuhan ekonomi diperlukan, Dedi menegaskan pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan lingkungan.