Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperingatkan bahwa kondisi lingkungan dan tata ruang di Kabupaten Bogor berpengaruh langsung terhadap keselamatan warga di wilayah hilir, termasuk Jakarta, Bekasi, Karawang, dan sekitarnya. Ia menilai kerusakan tata ruang di Bogor telah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan dapat menjadi ancaman bencana bagi kawasan aglomerasi.
Dalam keterangannya di Bandung, Rabu (6/5), Dedi menyoroti alih fungsi lahan yang terjadi secara masif, terutama di kawasan resapan air dan perbukitan. Menurutnya, perubahan penggunaan lahan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya bencana alam, seperti banjir dan longsor, yang belakangan kerap melanda.
“Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” kata Dedi.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian Dedi adalah kawasan Sukamakmur. Ia menilai perbukitan yang berubah menjadi kompleks permukiman telah mengurangi kemampuan lahan menyerap air. Dampaknya, ketika hujan deras turun, aliran sungai lebih cepat meluap ke daerah hilir karena berkurangnya “benteng” resapan air.
Dedi menyebut persoalan tersebut tidak terlepas dari kebijakan tata ruang pada masa lalu yang dinilai kurang mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. “Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang,” ujarnya.
Menanggapi kondisi itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan akan melakukan audit total terhadap tata ruang di wilayah penyangga ibu kota. Dedi menyebut langkah ini ditujukan untuk mengembalikan fungsi hutan dan lahan hijau agar keseimbangan lingkungan dapat dipulihkan.
“Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak datang setiap waktu,” kata Dedi.
Ia juga menyerukan kepada seluruh pihak untuk menghentikan perusakan alam di Bogor demi mengurangi risiko bencana di wilayah yang lebih luas. “Kalau ingin Bogor, Bekasi, Karawang sampai Jakarta terbebas dari bencana, mari kita jaga Bogor agar tidak hanya menjadi pusat eksploitasi, tetapi tetap mempertahankan keasrian alamnya,” tutur Dedi.