Dari Peringatan AI hingga Kritik Agama: Menggali Kembali Wajah Cinta Kasih

Dari Peringatan AI hingga Kritik Agama: Menggali Kembali Wajah Cinta Kasih

Ilmuwan asal Inggris, Stephen Hawking, pernah mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat menjadi ancaman serius bagi masa depan manusia. Ia menyatakan, “The development of full artificial intelligence could spell the end of the human race (Perkembangan artificial intelligence yang menyeluruh dapat mengakhiri ras manusia).”

Peringatan semacam itu memunculkan kekhawatiran, namun sejarawan Yuval Noah Harari menilai ada hal lain yang lebih berbahaya dibanding AI. Dalam bukunya, Nexus, Harari menyebut penemuan paling berbahaya dalam sejarah manusia adalah agama. Ia menulis, “The tendency to create powerful things with unintended consequences started not with the invention of the steam engine or AI but with the invention of religion. Prophets and theologians have summoned powerful spirits that were supposed to bring love and joy but occasionally ended up flooding the world with blood.”

Pandangan tersebut bisa terdengar sinis. Namun, jika ditempatkan sebagai kritik, pernyataan itu dapat menjadi bahan refleksi: mengapa agama—yang kerap mengajarkan cinta kasih, keadilan, kebijaksanaan, kesantunan, perdamaian, dan kebahagiaan—sering kali diasosiasikan dengan kekerasan dan pertumpahan darah?

Dalam tradisi agama-agama Abrahamik, ajaran cinta kasih hadir secara kuat. Islam mengajarkan salam perdamaian saat bertemu, serta membiasakan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam ajaran Nasrani, cinta kasih menjadi salah satu gambaran yang melekat pada nama Yesus, antara lain termaktub dalam Matius 5:39: “Tetapi Aku berkata kepadamu: ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu’.”

Dalam tradisi Yahudi, nilai-nilai utama juga menekankan keadilan, kebenaran, kerukunan, kasih sayang, kerendahan hati, sedekah, dan tutur kata yang baik. Dalam Kitab Talmud disebutkan: “Perkara-perkara yang mendatangkan bunga pahala untuk dinikmati di dunia dan pokok pahala untuk dinikmati di akhirat adalah menghormati kedua orang tua, mencintai perbuatan-perbuatan baik, dan mendamaikan satu orang dengan orang lain. Akan tetapi, mengkaji Taurat setara dengan ketiga-tiganya (Talmud Sabat 127a).”

Namun, sejarah juga mencatat deret konflik yang membawa nama agama sebagai pembenaran. Perang Salib, yang diyakini kedua kubu sebagai perang suci, disebut menelan korban antara 1 hingga 3 juta jiwa. Perang antara Katolik dan Kristen di Prancis pada 1562–1598 disebut mengakibatkan 2 hingga 4 juta korban jiwa. Sementara konflik antara Islam dan Yahudi digambarkan terus berkecamuk hingga kini.

Angka-angka tersebut dipandang belum mencakup keseluruhan korban dalam perang-perang suci sepanjang sejarah. Konflik internal dalam masing-masing agama dengan motif keyakinan juga kerap menimbulkan kerusakan dan korban dalam jumlah besar. Meski tidak semua perang sepenuhnya dipicu motif agama, agama kerap menjadi narasi yang kuat dalam mengeskalasi konflik.

Dari rangkaian catatan itu, kritik Harari dianggap memiliki pijakan tertentu. Namun, respons yang ditawarkan bukanlah membalas kritik dengan kemarahan, melainkan menggali kembali sisi ramah agama—wajah cinta kasih yang kerap didengungkan bersama janji kedamaian dan kebahagiaan, meski dalam praktiknya sering tersisih oleh kebencian dan permusuhan.

Di sisi lain, tuntutan agar pemeluk agama tidak meyakini agamanya sebagai yang paling benar dinilai tidak realistis. Begitu pula tuntutan agar semua pemeluk meyakini seluruh agama memiliki kebenaran yang sama dianggap berlebihan. Keyakinan tentang jalan keselamatan ditempatkan sebagai wilayah teologis yang eksklusif bagi masing-masing agama.

Platform yang memungkinkan kehidupan bersama, menurut gagasan ini, berada pada nilai-nilai etik yang diajarkan agama. Masa depan yang diharapkan adalah agama yang mengembangkan cinta kasih, memerdekakan setiap orang untuk mencapai kepenuhan eksistensinya, dan membangun kebaikan bersama.

Konflik dipandang sulit dihindari selama manusia hidup secara komunal. Namun, bila agama yang dikembangkan adalah agama cinta kasih kepada sesama, maka konflik di masa depan diharapkan bergeser menjadi pertarungan nilai antara cinta dan benci—bukan perang antaragama yang dilatari kebencian karena perbedaan keyakinan. Dalam kerangka itulah, kisah agama di panggung sejarah manusia diusulkan untuk kembali menonjolkan satu judul besar: “Agama Cinta.”