Cek Fakta Video “Pembuatan Telur Palsu” Viral: Tidak Terbukti Diproduksi untuk Konsumsi di Indonesia

Cek Fakta Video “Pembuatan Telur Palsu” Viral: Tidak Terbukti Diproduksi untuk Konsumsi di Indonesia

Video yang menampilkan proses “pembuatan telur palsu” kembali viral di TikTok dan memicu kekhawatiran warganet soal kemungkinan beredarnya telur palsu di Indonesia. Dalam unggahan itu, terlihat cairan bening dan kuning dimasukkan ke dalam cetakan menyerupai telur, lalu dinarasikan sebagai produksi telur palsu yang disebut berbahaya jika dikonsumsi.

Sejumlah warganet mempertanyakan cara membedakan telur asli dan palsu. Ada pula yang mengaitkan warna kuning telur yang tampak pekat dengan dugaan adanya telur palsu di pasaran.

Namun, hasil verifikasi Cek Fakta DW Indonesia menyimpulkan klaim tersebut keliru. Penelusuran menggunakan Google Reverse Image menunjukkan video viral itu merupakan gabungan dari beberapa video berbeda di internet. Salah satu sumber aslinya ternyata adalah video pembuatan mainan berbentuk telur, bukan produksi telur untuk konsumsi manusia.

Narasi mengenai “telur palsu” juga bukan hal baru dan berulang kali muncul di berbagai negara. Di Taiwan, rumor sempat ramai ketika terjadi kelangkaan pasokan telur dan harga naik. Di India, beredar video dan pesan berantai yang mengeklaim ada “plastic eggs” berbahaya yang dijual di pasaran.

Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI), lembaga yang setara BPOM di India, bahkan menerbitkan panduan khusus untuk membantah rumor tersebut. FSSAI menjelaskan bahwa variasi tekstur, warna, hingga lapisan membran telur bisa terjadi secara alami, dipengaruhi usia telur, suhu penyimpanan, kualitas pakan ayam, dan jenis ayam. Putih telur yang lebih encer atau kuning telur yang tampak lebih menyatu juga dapat terjadi ketika telur semakin tua atau disimpan pada suhu yang tidak stabil.

FSSAI menegaskan klaim telur plastik yang beredar luas di media sosial tidak didukung bukti ilmiah. Menurut lembaga itu, belum ada bukti bahwa telur utuh sintetis seperti yang digambarkan dalam video viral diproduksi dan dijual massal untuk konsumsi publik.

Di Indonesia, klaim serupa juga telah berkali-kali muncul dan dibantah pemerintah maupun media pemeriksa fakta. Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, mengatakan bahwa di dunia pangan memang ada istilah seperti artificial egg atau cultivated egg. Namun, istilah tersebut tidak sama dengan gambaran “telur palsu” dalam video viral yang memperlihatkan cairan kimia seolah berubah menjadi telur utuh siap konsumsi.

Menurut Satriyo, riset pengganti telur berkembang untuk menggantikan fungsi tertentu dari telur, misalnya sebagai pengental, emulsifier, atau pengembang adonan. Ia menyebut teknologi yang ada saat ini masih bersifat parsial, yakni baru meniru komponen tertentu—misalnya karakter putih telur—melalui proses bioteknologi atau fermentasi mikroba. Adapun teknologi untuk membuat telur utuh lengkap dengan cangkang, putih dan kuning telur, serta karakteristik layaknya telur ayam asli, disebut belum ada.

Satriyo membandingkannya dengan perkembangan cultured meat atau daging hasil kultur sel yang sudah mulai dikembangkan di beberapa negara. Sementara untuk telur utuh seperti dalam video, ia menyatakan belum pernah mengetahui adanya teknologi yang mampu membuatnya.

Karena itu, ia menilai benda yang tampak dalam video viral lebih tepat disebut sebagai telur tiruan untuk kebutuhan estetika, eksperimen visual, atau properti, bukan produk pangan yang realistis untuk dikonsumsi.

Terkait cara mengenali telur, Satriyo mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan akan adanya telur palsu. Ia menyebut telur memiliki bau khas yang sulit ditiru bahan sintetis, sehingga aroma bisa menjadi indikator paling mudah dikenali. Selain itu, perubahan tekstur saat dimasak juga dapat menjadi pembeda, terutama bagi orang yang terbiasa memasak telur.

Satriyo menambahkan, warna kuning telur yang lebih oranye atau putih telur yang lebih encer tidak otomatis berarti telur tersebut palsu. Faktor usia telur, suhu penyimpanan, kualitas pakan, dan jenis ayam dapat memengaruhi tampilan telur secara alami.

Ia juga menilai narasi “telur palsu” yang diproduksi massal dan dijual luas di Indonesia sulit masuk akal secara ekonomi. Menurutnya, produksi telur ayam nasional relatif mencukupi dan harga telur tergolong murah, sehingga upaya membuat telur tiruan utuh justru berpotensi lebih mahal dibanding menjual telur asli.

Satriyo menyebut kasus yang pernah ditemukan di Indonesia bukan telur sintetis seperti yang ramai dibicarakan di media sosial. Pemalsuan yang terjadi lebih berupa perbedaan klaim jenis telur, misalnya telur ayam yang diwarnai agar menyerupai telur bebek untuk dijual lebih mahal. Meski demikian, produk tersebut tetap telur asli dan masih memiliki kandungan gizi seperti telur pada umumnya.

Ia mengimbau masyarakat tidak perlu takut mengonsumsi telur karena telur tetap menjadi salah satu sumber protein hewani yang lengkap, murah, dan mudah diakses.