Sebuah foto yang diklaim menampilkan wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis HAM KontraS, Andrie Yunus, ramai beredar di media sosial. Gambar tersebut tampak sangat tajam dan dinilai lebih jelas dibanding rekaman CCTV yang selama ini beredar, sehingga membuat sebagian warganet mempercayainya.
Narasi yang menyertai unggahan itu menyebut dua orang dalam foto sebagai terduga pelaku penyiraman air keras. Namun, tidak semua pengguna media sosial menerima klaim tersebut. Sejumlah komentar mempertanyakan keaslian gambar karena kualitasnya yang dianggap tidak lazim untuk tangkapan CCTV.
Berdasarkan verifikasi, foto yang beredar diketahui merupakan hasil olahan kecerdasan artifisial (AI), menggunakan alat peningkat gambar (AI enhancer). Dalam pemeriksaan, ditemukan sejumlah kejanggalan pada foto jika dibandingkan dengan rekaman CCTV yang sebelumnya beredar.
Pendiri PIKAT (Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial dan Teknologi untuk Demokrasi) Damar Juniarto menjelaskan bahwa AI dalam banyak kesempatan dapat “berhalusinasi”, yakni menghasilkan atau membentuk sosok yang sebenarnya tidak ada. Karena itu, gambar hasil olahan AI berpotensi menyesatkan jika langsung dianggap sebagai bukti identitas seseorang.
Peredaran gambar semacam ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam membagikan konten visual, terutama yang berkaitan dengan kasus sensitif. Publik disarankan memeriksa konteks dan memastikan informasi melalui verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

