BEI Klaim Transparansi Pasar Modal Indonesia Termasuk Tertinggi di Dunia

BEI Klaim Transparansi Pasar Modal Indonesia Termasuk Tertinggi di Dunia

Pelaksana Tugas Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menilai tekanan yang terjadi di pasar modal belakangan ini dapat menjadi momentum bagi industri untuk melakukan pembenahan fundamental.

Menurut Jeffrey, berbagai langkah reformasi yang dijalankan BEI selama ini membuat pasar modal Indonesia kini menjadi salah satu bursa paling transparan di dunia. Ia menyebut tingkat keterbukaan informasi yang diterapkan bahkan melampaui permintaan awal yang disampaikan kepada otoritas maupun pelaku pasar.

“Apa yang kita berikan kepada publik itu melebihi dari apa yang diminta sebenarnya. Karena apa yang diminta itu hanya soal transparansi terkait data investor yang lebih granular dan transparansi terkait dengan kepemilikan saham,” kata Jeffrey dalam Investor Relations Forum 2026 di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Jeffrey menegaskan, informasi yang dibuka BEI ditujukan untuk publik secara luas, bukan hanya untuk lembaga tertentu. Ia juga menyampaikan bahwa BEI mengadopsi praktik terbaik dari sejumlah bursa dunia untuk memperkuat tata kelola pasar modal domestik.

Salah satu kebijakan yang disorot adalah keterbukaan daftar pemegang saham di atas satu persen. Menurutnya, praktik ini saat ini hanya diterapkan di India dan Indonesia, sementara mayoritas bursa global umumnya baru membuka data kepemilikan pada level tiga hingga lima persen.

“Yang kita lakukan adalah apa best practice yang ada di dunia saat ini, itu semuanya kita adopsi. Seperti disposure atau pembukaan daftar nama pemegang saham di atas satu persen, saat ini hanya ada di India dan Indonesia. Bursa-bursa lain tidak ada yang membuka sampai dengan satu persen. Tiga persen, lima persen itu adalah rule of thumb di global exchange,” ujarnya.

Selain keterbukaan kepemilikan saham, BEI juga menerapkan transparansi data investor yang lebih granular serta kebijakan free float minimum sebesar 15 persen yang disebut mengikuti standar rata-rata bursa besar dunia.

“Kemudian juga data yang lebih granular, itu juga best practice, international best practice. Free float, 15 persen, itu juga kita mengikuti rata-rata dari bursa-bursa besar di dunia. High Shareholding Concentration, saat ini, sampai dengan saat ini, itu juga hanya ada di Hong Kong dan Indonesia,” kata Jeffrey.

Lebih lanjut, ia menilai kondisi pasar yang penuh tantangan tidak semata-mata dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat fondasi industri pasar modal nasional. Karena itu, BEI berupaya meminimalkan ruang kesalahan dalam setiap kebijakan yang diterapkan.

“Jadi, apa yang best practice di India dan tidak ada di tempat lain, itu kita adopsi. Apa yang ada di Hong Kong dan tidak ada di tempat lain, itu juga kita adopsi. Itulah yang membuat saat ini, sepertinya, bursa Indonesia adalah bursa yang paling transparan di dunia,” ujarnya.