BEI dan KSEI Publikasikan Pemegang Saham BBNI di Atas 1 Persen, Transparansi Pasar Masuk Babak Baru

BEI dan KSEI Publikasikan Pemegang Saham BBNI di Atas 1 Persen, Transparansi Pasar Masuk Babak Baru

Pasar modal Indonesia memasuki tahap baru dalam keterbukaan informasi. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) resmi merilis daftar pemegang saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan porsi kepemilikan di atas 1 persen.

Kebijakan ini merupakan implementasi Keputusan Dewan Komisioner Nomor 1/KDK.04/2026 yang memberi mandat kepada otoritas bursa untuk menyajikan profil pemilik emiten secara lebih mendalam. Dengan rilis tersebut, publik kini dapat melihat pihak-pihak yang memiliki porsi signifikan di bank BUMN tersebut.

Berdasarkan data yang dipublikasikan, kepemilikan saham BBNI di atas 1 persen diisi oleh kombinasi lembaga pengelola dana dan investor perorangan. DJS Ketenagakerjaan (Program JHT) tercatat memiliki 3,51 persen atau sekitar 1,3 miliar lembar saham. Investor lokal Winarno Tjajadi memiliki 2,09 persen atau sekitar 780 juta lembar saham, dan disebut mulai mengoleksi saham BBNI sejak 2020. Dari luar negeri, Employees Provident Fund Board (EPF) asal Malaysia tercatat memiliki 1,18 persen. Sementara PT Taspen (Persero) memiliki 1,17 persen atau sekitar 437 juta lembar saham.

Selama ini, informasi kepemilikan yang umum diketahui publik lebih berfokus pada pemegang saham pengendali dengan porsi di atas 5 persen. Melalui kebijakan baru, KSEI akan mempublikasikan daftar pemegang saham di atas 1 persen secara rutin setiap bulan. Tujuannya untuk memperkuat integritas dan kredibilitas pasar modal Indonesia agar sejalan dengan standar global.

BEI menilai penyajian data yang lebih terstruktur dapat membantu investor, termasuk investor ritel, memahami peta pemegang saham dan menilai stabilitas kepemilikan suatu emiten. Transparansi ini juga ditegaskan sebagai bagian dari reformasi untuk mendorong perdagangan yang wajar dan efisien.

Untuk BBNI, keterbukaan tersebut disebut memperkuat posisi perusahaan sebagai institusi perbankan yang transparan sejak melantai di bursa melalui penawaran umum perdana pada 25 November 1996. Data kepemilikan kini dapat diakses publik melalui laman resmi BEI.