Bedah Buku di Gowa, Mustamin Raga Bahas “Negara dalam Kemasan” dan Peran Komunikasi Membentuk Persepsi Publik

Bedah Buku di Gowa, Mustamin Raga Bahas “Negara dalam Kemasan” dan Peran Komunikasi Membentuk Persepsi Publik

Penulis sekaligus aparatur sipil negara Mustamin Raga memperkenalkan gagasan utama dalam buku terbarunya, Negara dalam Kemasan, dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Aula Perpustakaan Daerah Gowa, Jumat (31/7/2026). Diskusi ini mengangkat cara komunikasi membentuk persepsi publik, termasuk meluasnya konsep brand dari dunia produk komersial ke ranah politik.

Acara dipandu Anto Pettanegara sebagai moderator dan dihadiri kalangan akademisi, pegiat literasi, jurnalis, komunitas fotografi, serta masyarakat umum. Dalam pengantarnya, Anto memperkenalkan Mustamin Raga yang lahir di Takalar pada 28 Juli 1968. Mustamin menamatkan Sarjana Sastra Inggris di Universitas Hasanuddin pada 1993 dan semasa kuliah aktif berorganisasi, termasuk pernah menjabat Ketua Perhimpunan Sastra Inggris (Perisai) Universitas Hasanuddin.

Mustamin kemudian melanjutkan pendidikan magister di Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin dan saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Sastra Inggris Universitas Hasanuddin. Dalam sambutan pengantar, Mustamin yang menggunakan nama pena Tommy Arga menyapa sejumlah tamu yang hadir, di antaranya pendiri Pelakita.id Kamaruddin Azis, komunitas Gowa Fotografi Club, serta elemen masyarakat lain yang mengikuti diskusi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Lensa Indonesia sebagai penyelenggara kegiatan, yang dinilai konsisten mendorong penguatan budaya literasi di tengah masyarakat.

Dalam pemaparannya, Mustamin menyebut Negara dalam Kemasan sebagai buku keenam yang ia tulis. Ia mengatakan, karya-karyanya memiliki benang merah yang sama karena lahir dari perenungan panjang atas berbagai fenomena sosial di masyarakat.

“Buku ini lahir dari sebuah perenungan panjang, melihat dan mempelajari berbagai fenomena yang ada di sekitar kita, baik yang kita alami secara langsung maupun tidak langsung,” ujarnya.

Mustamin menjelaskan bahwa bukunya memadukan sejumlah cabang ilmu, terutama ilmu komunikasi, untuk menerangkan bagaimana realitas dapat dipahami secara berbeda oleh tiap individu. Menurutnya, objek yang sama bisa menimbulkan persepsi beragam, bergantung pada pengalaman, pengetahuan, dan cara pandang masing-masing orang.

Saat menguraikan bab pertama, Mustamin membahas perkembangan konsep brand yang awalnya identik dengan produk komersial. Pada mulanya, brand digunakan sebagai strategi mengemas produk agar menarik perhatian konsumen dan meningkatkan nilai jual. Namun, seiring perkembangan ilmu komunikasi dan teknologi informasi, konsep itu meluas hingga memasuki wilayah politik.

Dalam konteks tersebut, tokoh publik, calon anggota legislatif, kepala daerah, maupun pejabat eksekutif dinilai tidak hanya dari kapasitasnya, tetapi juga melalui citra yang dibangun di ruang publik. “Brand kemudian meloncat ke dunia politik. Seorang calon legislatif atau kepala daerah dipersepsikan sebagai sesuatu yang tampak, kemudian dinilai, diingat, dan pada akhirnya dapat membentuk keyakinan masyarakat,” kata Mustamin.

Melalui Negara dalam Kemasan, Mustamin mengajak pembaca memahami bagaimana persepsi publik dibentuk, bagaimana citra dikonstruksi, serta bagaimana komunikasi berperan dalam membangun kepercayaan terhadap individu maupun institusi. Buku ini, menurut pemaparannya, menjadi refleksi kritis atas perubahan cara masyarakat memandang realitas di era media digital yang kian sarat pencitraan dan pengelolaan persepsi.

Diskusi bedah buku ini turut menghadirkan dua pembedah, yakni akademisi Universitas Muhammadiyah Dr Idham Chalid dari FEB Unismuh serta budayawan Syamsu Salewangang Daeng Gajang yang juga menjabat Wakil Rektor 4 Universitas Syekh Yusuf Almakassari.