Bakom RI: Komunikasi dan Edukasi Jadi Kunci Tingkatkan Partisipasi Cek Kesehatan Gratis

Bakom RI: Komunikasi dan Edukasi Jadi Kunci Tingkatkan Partisipasi Cek Kesehatan Gratis

Jakarta—Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) menilai komunikasi, sosialisasi, dan edukasi menjadi kunci untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Upaya tersebut dinilai penting agar paradigma kesehatan publik bergeser dari pendekatan kuratif menuju promotif dan preventif.

Juru Bicara Bakom RI Adita Irawati mengatakan CKG merupakan wujud amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang mewajibkan negara memajukan kesejahteraan umum. Ia juga menyebut Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menempatkan kesehatan sebagai salah satu pilar prioritas dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Adita menyampaikan bahwa sudah ada 70 juta jiwa yang melakukan pemeriksaan. Ke depan, pemerintah berharap cakupan program semakin luas dan tingkat partisipasi meningkat, yang menurutnya dapat didorong melalui komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, CKG merupakan program hasil terbaik cepat (quick win) dengan target penerima manfaat terbesar, yakni seluruh penduduk Indonesia. Karena cakupannya luas, Adita menilai pelaksanaan program membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk mengedukasi publik dan mendorong perubahan perilaku.

“Yang lebih penting lagi adalah bagaimana awareness tadi bisa dikonversi menjadi sebuah aksi untuk melakukan pemeriksaan,” kata Adita.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi menyampaikan hasil evaluasi yang menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang CKG masih terbatas. Berdasarkan evaluasi pertengahan tahun lalu, baru 45 persen masyarakat yang mengetahui program tersebut. Sementara itu, ketika ditanya kepada pengunjung puskesmas, sekitar 35 persen menyatakan tahu tentang CKG.

Endang mengatakan, sebagian masyarakat belum berniat mengikuti CKG karena sejumlah alasan, seperti waktu yang tidak cocok dan merasa masih sehat. Ia menyebut alasan yang paling banyak muncul adalah ketidaksesuaian waktu.

Menurut Endang, temuan evaluasi itu menjadi bahan perbaikan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam program CKG ke depan. Adita pun mengapresiasi Kementerian Kesehatan yang intensif berkolaborasi dengan Bakom RI dan pihak terkait dalam mengajak masyarakat berpartisipasi, serta berharap program dapat terus ditingkatkan melalui evaluasi dan perbaikan.