DENPASAR — Audiensi Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) dengan Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali di Wantilan DPRD Bali, Rabu (3/6), sempat diwarnai peristiwa kerauhan yang dialami sejumlah peserta.
Situasi yang semula berlangsung penuh konsentrasi berubah ketika beberapa tokoh masyarakat dan akademisi menyampaikan pandangan terkait persoalan tata ruang, aset daerah, serta pembangunan yang dinilai berdampak terhadap kawasan suci dan ruang hidup masyarakat adat Bali. Di tengah dialog, beberapa peserta yang duduk di bagian tengah dan depan wantilan tampak menunjukkan tanda-tanda kerauhan.
Meski sempat menyita perhatian peserta audiensi, jalannya pertemuan dilaporkan tetap berlangsung tertib. Sejumlah tokoh adat dan pemuka agama yang hadir turut mendampingi peserta yang mengalami kerauhan hingga suasana kembali kondusif.
Bagi sebagian masyarakat Bali, kerauhan dipahami bukan sekadar peristiwa biasa. Dalam tradisi Hindu Bali, kondisi tersebut kerap dimaknai sebagai manifestasi spiritual yang muncul pada momentum tertentu, terutama ketika pembahasan menyangkut kepentingan masyarakat luas, nilai-nilai adat, maupun kesucian wilayah tertentu.
Audiensi itu dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Mereka diterima Tim Pansus TRAP DPRD Bali yang dipimpin Ketua Pansus TRAP, I Made Supartha. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara masyarakat sipil dan DPRD Bali terkait pelaksanaan fungsi pengawasan Pansus TRAP atas isu tata ruang, aset daerah, dan perizinan pembangunan yang belakangan menjadi sorotan.
Sejumlah tokoh hadir menyampaikan pandangan, antara lain Ida Shri Bhagawan Yogananda, mantan anggota MPR RI utusan Bali Jro Gede Sudibya, Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali dr. Wayan Sayoga, akademisi Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si., serta Prof. Dr. I Gede Sutarya dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa.
Partisipasi masyarakat juga terlihat dari kehadiran komunitas Pulau Serangan, para pengempon pura di kawasan PT Jimbaran Hijau, serta jajaran Prajaniti Hindu Indonesia dari berbagai kabupaten dan kota di Bali.
Dari kalangan generasi muda, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi turut hadir, di antaranya BEM Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati, Universitas Dwijendra, UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Universitas Hindu Indonesia, Universitas Mahadewa, Institut Seni Indonesia Denpasar, hingga Universitas Saraswati.
Di tengah beragam pandangan yang disampaikan, peristiwa kerauhan menjadi salah satu momen yang paling menonjol dalam audiensi tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa persoalan tata ruang dan pembangunan di Bali tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan investasi, tetapi juga menyentuh dimensi budaya, adat, dan spiritual.