Audiensi For Hati Bali dengan Pansus TRAP DPRD Bali Diwarnai Peristiwa Kerauhan

Audiensi For Hati Bali dengan Pansus TRAP DPRD Bali Diwarnai Peristiwa Kerauhan

DENPASAR—Audiensi Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For Hati) dengan Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali di Wantilan DPRD Bali, Rabu (3/6), diwarnai peristiwa kerauhan yang terjadi di tengah penyampaian aspirasi.

Peristiwa tersebut sempat menyita perhatian peserta yang memenuhi wantilan. Saat sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, dan perwakilan komunitas menyampaikan pandangan, beberapa peserta di bagian tengah dan depan ruangan mendadak menunjukkan tanda-tanda kerauhan. Meski demikian, jalannya audiensi tetap berlangsung tertib setelah peserta yang mengalami kerauhan didampingi tokoh adat dan pemuka agama yang hadir.

Anggota DPRD Bali I Nyoman Oka Antara yang berada tidak jauh dari salah satu peserta yang mengalami kerauhan mengaku merasakan suasana berbeda saat peristiwa itu terjadi. Oka Antara mengatakan dirinya merupakan pamangku yang telah menjalankan tugas spiritual selama puluhan tahun.

“Tadi pas kerauhan saya kan dekat, bulu saya bangun. Karena saya kebetulan kan dibilang kan nekunin sih enggak spiritual, tapi saya pelaku spiritual itu. Karena saya seorang pamangku sudah 27 tahun. Saya pamangku di tiga pura,” ujar Oka Antara.

Politisi asal Karangasem itu menjelaskan salah satu pura tempatnya bertugas dikenal sebagai lokasi masyarakat memohon keselamatan dan kesehatan. Ia juga menyebut ada pura lain yang menurutnya keramat dan menjadi tempat masyarakat memohon kesembuhan, keselamatan, dan keperluan lainnya.

Oka Antara menuturkan, pengalaman panjangnya sebagai pamangku membuatnya cukup mengenali berbagai fenomena spiritual, termasuk yang terjadi di wantilan DPRD Bali. Ia mengaku merasakan energi berbeda ketika menyentuh tangan salah seorang peserta yang mengalami kerauhan.

“Itu tadi bulu saya bangun dan anak-anak itu tidak mengada-ada. Dia itu setelah saya sentuh tangannya, saya langsung seolah-olah ada begini. Dia itu ada sesuatu yang memasuki, ada roh. Cuma dia belum terbiasa menyampaikan,” ungkapnya.

Menurut Oka Antara, peristiwa kerauhan tersebut diyakini sebagai media penyampaian pesan dari kekuatan suci. Ia menyebut sempat mendengar isi pesan yang ia pahami disampaikan melalui peserta yang mengalami kerauhan. “Tadi saya dengar, pokoknya dia muak dengan ini. Dia tidak percaya lagi dengan pemerintah yang ada. Karena kenapa? karena tanah Bali ini sudah banyak noda, sudah banyak kotornya,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan, jika yang masuk merupakan energi negatif biasanya dapat dikeluarkan melalui cara-cara spiritual tertentu. Namun, ia menilai kondisi yang terjadi saat audiensi berbeda. Dalam tradisi Hindu Bali, fenomena kerauhan kerap dipahami sebagai manifestasi spiritual yang muncul pada momentum tertentu dan diyakini memiliki makna penting secara niskala.

Audiensi For Hati Bali tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Mereka diterima langsung oleh Tim Pansus TRAP yang dipimpin Ketua Pansus I Made Supartha.

Pertemuan itu menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat terkait isu tata ruang, aset daerah, perizinan pembangunan, perlindungan kawasan suci, hingga pengelolaan lingkungan hidup yang belakangan menjadi perhatian publik.

Sejumlah tokoh hadir dalam audiensi tersebut, di antaranya Ida Shri Bhagawan Yogananda, mantan anggota MPR RI utusan Bali Jro Gede Sudibya, Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali dr. Wayan Sayoga, akademisi Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si., serta akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Prof. Dr. I Gede Sutarya.

Selain itu hadir pula perwakilan masyarakat Pulau Serangan, para pengempon pura di kawasan PT Jimbaran Hijau, jajaran Prajaniti Hindu Indonesia dari berbagai kabupaten dan kota di Bali, serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati, Universitas Dwijendra, Universitas Hindu Indonesia, Universitas Mahadewa, Institut Seni Indonesia Denpasar, dan Universitas Saraswati.