Amoras Gelar Aksi di Polrestabes Makassar, Desak Transparansi Kasus Penembakan dan Kekerasan di Kampus UNM

Amoras Gelar Aksi di Polrestabes Makassar, Desak Transparansi Kasus Penembakan dan Kekerasan di Kampus UNM

Aliansi Mahasiswa Olahraga dan Kesehatan (Amoras) menggelar aksi demonstrasi di depan Polrestabes Makassar, Kamis (13/03). Aksi ini merupakan protes atas kasus penembakan yang menewaskan warga sipil Bertrand Eka Prasetyo Radiman, serta insiden kekerasan yang terjadi di lingkungan Universitas Negeri Makassar (UNM).

Amoras menyebut aksi tersebut sebagai respons cepat mahasiswa terhadap meningkatnya dugaan kekerasan yang melibatkan aparat dan tindakan represif yang dinilai mencederai rasa keadilan publik.

Koordinator Lapangan Amoras, Irgi, menegaskan bahwa kematian Bertrand merupakan insiden kelalaian aparat. Ia menilai setiap peluru yang dilepaskan aparat negara memiliki konsekuensi hukum dan tanggung jawab yang jelas.

“Ketika peluru aparat merenggut nyawa warga sipil, tidak ada alasan apa pun yang bisa menjadi tameng untuk menghindari pertanggungjawaban. Narasi ‘tidak sengaja’ justru memperlebar jarak antara publik dan institusi penegak hukum,” kata Irgi.

Dalam aksi itu, Amoras juga menyoroti peristiwa kekerasan di dalam kampus UNM, termasuk pemukulan terhadap seseorang yang disebut tidak ikut serta dalam aksi demonstrasi. Mereka menilai kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa, bukan lokasi terjadinya tindakan kekerasan.

Irgi menyampaikan bahwa korban dari rangkaian peristiwa tersebut tidak hanya berasal dari kalangan pengemudi ojek online, tetapi juga mahasiswa yang berada di area kampus UNM. Menurutnya, hal itu menunjukkan eskalasi kekerasan telah meluas dan menyeret pihak-pihak yang tidak memiliki keterlibatan langsung.

“Rangkaian peristiwa ini tidak sebagai kejadian biasa yang kemudian terlupakan. Jika penanganan tertutup atau setengah hati, maka kemarahan publik akan semakin membesar,” ujarnya.

Amoras menyampaikan lima tuntutan dalam aksi tersebut, yakni mengusut tuntas kasus penembakan secara transparan dan akuntabel; menetapkan serta memproses secara hukum aparat yang bertanggung jawab; membuka kronologi lengkap serta hasil investigasi kepada publik; memberikan keadilan dan pemulihan bagi keluarga korban; serta mengusut tuntas peristiwa kekerasan di dalam kampus UNM yang mengakibatkan pemukulan terhadap pihak yang tidak terlibat aksi.

Irgi menambahkan, mahasiswa akan terus mendesak hingga kebenaran dibuka secara terang. “Nyawa warga sipil tidak murah. Jika hukum tidak memberikan keadilan, suara mahasiswa akan terus menggema hingga keadilan itu benar-benar tegak,” katanya.

Ia juga menegaskan gerakan Amoras merupakan gerakan moral mahasiswa yang tidak boleh ditunggangi kepentingan apa pun. “Gerakan ini lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap keadilan. Tidak ada pihak mana pun yang berhak mengklaim gerakan ini untuk kepentingan tertentu. Jika ada yang mencoba menunggangi, mereka adalah oknum dan bukan bagian dari Amoras,” tutupnya.