Aktivis Gelar Aksi Golput di Taman Aspirasi Jelang Pemilu 2019

Aktivis Gelar Aksi Golput di Taman Aspirasi Jelang Pemilu 2019

Belasan orang berkumpul di Taman Aspirasi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis, 21 Februari 2019. Mereka membentangkan spanduk putih bergambar telapak tangan dengan tulisan “Saya Golput” di lokasi yang berada tepat di seberang Istana Negara.

Dalam aksi tersebut, sekelompok aktivis menyatakan sikap politik untuk tidak menggunakan hak pilih atau menjadi golongan putih (golput) pada Pemilu 17 April 2019. Sejumlah alasan disampaikan, termasuk ketidakpercayaan terhadap dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang bertarung pada Pilpres 2019.

Salah satu peserta aksi, Jali, mengatakan ia tidak akan memilih baik pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin maupun pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ia menilai janji kedua pasangan tidak meyakinkan.

Jali menilai Joko Widodo gagal membuktikan janji-janji selama empat tahun memimpin Indonesia dan menyebut tidak ada kasus pelanggaran HAM berat masa lalu yang terungkap selama masa jabatan tersebut. Sementara itu, ia menilai Prabowo bertanggung jawab atas sejumlah kasus penculikan aktivis di masa lalu.

Menurut Jali, siapa pun yang terpilih dari dua kandidat itu tidak akan membawa perubahan bagi nasib rakyat. “Jadi sebenarnya dua-duanya sama saja. Itulah alasan kenapa saya memilih untuk tidak memilih atau golput pada pemilu nanti,” ujarnya.

Peserta aksi lainnya, Mirza, menyampaikan alasan berbeda. Ia menilai peserta pemilu yang berasal dari partai politik memiliki “mental lama” dan jika berhasil meraih kursi kekuasaan, mereka hanya akan memperjuangkan kepentingan partai masing-masing.

Mirza juga mengajak masyarakat untuk tidak takut menyuarakan pilihan golput. Menurutnya, tidak memilih dari pilihan yang tersedia merupakan hak. “Golput bukan gerakan untuk menggagalkan pemilu, tapi karena kita tidak mau memilih baik 01 maupun 02. Kita memilih untuk tidak memilih,” ujarnya.

Sementara itu, aktivis golput Lini Zurlia menyebut gerakan golput tidak bersifat terorganisir, melainkan tumbuh secara organik. Ia mengatakan gerakan itu berawal dari individu yang saling menyampaikan pendapat, lalu berkembang lewat diskusi-diskusi. “Jadi enggak ada koalisi besar,” ujarnya.