Di tengah padatnya perdebatan politik dan ekonomi nasional, Akbar Endra kerap muncul sebagai penulis opini yang menyoroti isu-isu publik dengan pendekatan kritis dan analitis. Melalui tulisan-tulisannya, ia membedah dinamika sosial-politik, termasuk relasi antara kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi, serta dampaknya terhadap demokrasi dan kesejahteraan masyarakat.
Akbar Endra aktif menulis di Menit Indonesia, media independen yang menjadi ruang bagi analisisnya atas beragam isu. Topik yang diangkat mencakup politik, kebijakan ekonomi, supremasi hukum, hingga kontroversi proyek pembangunan skala besar seperti PIK 2. Dalam sejumlah opininya, ia menempatkan kebijakan publik dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait bagaimana keputusan politik dapat dipengaruhi kepentingan elite dan pelaku bisnis besar.
Salah satu sorotan yang kerap muncul dalam tulisannya adalah pertanyaan mengenai akuntabilitas dan transparansi dalam demokrasi Indonesia. Ia menilai tantangan demokrasi masih besar, terutama ketika kekuasaan dinilai berpotensi terkonsentrasi pada segelintir elite. Meski demikian, tulisan-tulisannya tidak semata bernada pesimistis. Ia lebih menekankan analisis atas kompleksitas persoalan, alih-alih sekadar melontarkan kritik tanpa pijakan.
Dalam isu kebijakan ekonomi, Akbar Endra beberapa kali menyoroti dampak kebijakan terhadap kelompok rentan. Ia menulis tentang impor singkong dan kebijakan LPG 3 kg, yang menurutnya berpotensi menimbulkan konsekuensi bagi rakyat kecil. Pada saat yang sama, ia juga membahas isu oligarki dan proyek pembangunan. Dalam tulisan mengenai Aguan dan PIK 2, misalnya, ia mengulas proyek tersebut sebagai bagian dari strategi pembangunan, namun juga memunculkan kontroversi terkait dampak sosial dan lingkungan.
Jejak Akbar Endra tidak hanya berada di ruang opini. Ia memulai kiprah sebagai aktivis mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) pada masa Reformasi 1998 dan dikenal terlibat dalam berbagai aksi demonstrasi di Makassar. Setelah reformasi, ia memilih jalur jurnalisme dan pada 1998 mendirikan Tabloid Aliansi. Tabloid ini disebut beroperasi selama satu dekade (1998–2008) dan dikenal kritis dalam memberitakan isu politik dan sosial pada masa transisi demokrasi.
Pada Pemilu 2009, Akbar Endra sempat terjun ke politik elektoral dan terpilih sebagai anggota DPRD Maros. Ia menjabat dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019, serta dikenal vokal mengkritisi kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Setelah itu, ia kembali ke dunia jurnalistik dengan mendirikan portal berita Menit Indonesia (menitindonesia.com). Di media tersebut, ia menjabat redaktur khusus sekaligus penulis opini utama, serta disebut turut melakukan peliputan investigatif dan menulis berita ekonomi, politik, serta sosial budaya.
Dalam narasi yang dibangun melalui tulisan-tulisannya, Akbar Endra menempatkan opini sebagai sarana memperluas diskusi publik mengenai arah kebijakan dan dinamika kekuasaan. Dari evaluasi kebijakan pemerintah hingga pembahasan isu-isu kontroversial, ia berupaya mengajak pembaca melihat persoalan secara lebih kritis melalui argumentasi dan analisis.
Sejumlah artikel opini Akbar Endra yang tercatat di Menit Indonesia antara lain: “Prabowo Bukan Pemimpin Boneka: Strategi Politiknya Kian Matang” (6 Februari 2025), “OPINI: Bahlil Bermain Api! Kontroversi LPG 3 Kg Bisa Berujung Reshuffle?” (5 Februari 2025), “Never Give Up, Dewie Yasin Limpo: Perempuan Tangguh di Pusaran Politik dan Perjuangan” (31 Januari 2025), “OPINI: Impor Singkong Melonjak, Ancaman Nyata Bagi Petani Lokal dan Respons Menteri Pertanian” (26 Januari 2025), “Evaluasi 100 Hari Prabowo: Korupsi Disikat atau Masih Mandek” (23 Januari 2025), “Opini: Erick Thohir dan Transformasi PSSI, Menjawab Tantangan Sepak Bola Nasional” (11 Januari 2025), serta “Opini: Konflik di PIK, Jawara Banten, dan Ketegasan Hukum yang Dipertaruhkan” (10 Januari 2025).

