Akademisi Unsri Pertanyakan Klaim RoA Danantara Naik 300 Persen, Desak Keterbukaan Perhitungan

Akademisi Unsri Pertanyakan Klaim RoA Danantara Naik 300 Persen, Desak Keterbukaan Perhitungan

Klaim Presiden Prabowo Subianto mengenai peningkatan Return on Assets (RoA) Danantara hingga 300 persen dalam satu tahun terakhir mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Akademisi Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, Ferdiansyah Rivai, menilai pernyataan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka karena menyisakan sejumlah pertanyaan dari sisi perhitungan ekonomi.

Menurut Ferdiansyah, jika benar terjadi, lonjakan RoA sebesar itu merupakan pencapaian yang sangat besar. Namun, ia menekankan pentingnya penelusuran lebih lanjut agar publik memahami dasar perhitungannya. “Jika memang benar terjadi peningkatan RoA hingga 300 persen, tentu ini merupakan capaian luar biasa. Tetapi secara akademik, angka tersebut perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik, karena ada beberapa hal yang terlihat belum sepenuhnya selaras dengan data yang beredar,” ujarnya.

Ferdiansyah menjelaskan, secara umum RoA dihitung melalui rumus laba bersih dibagi total aset, kemudian dikalikan 100 persen. Dengan demikian, kenaikan RoA umumnya sejalan dengan peningkatan laba bersih. Meski begitu, ia menyebut lonjakan RoA juga bisa terjadi apabila total aset menurun, atau terjadi kombinasi peningkatan laba bersih dan penurunan aset.

Ia menilai, indikator yang dapat menjelaskan lonjakan RoA tersebut belum terlihat jelas. Berdasarkan penelusurannya, laporan yang beredar di media menyebutkan laba keseluruhan BUMN hanya meningkat sekitar 4 hingga 9 persen jika dibandingkan antara 2024 dan 2025.

Selain itu, Ferdiansyah menyoroti tidak adanya informasi yang menunjukkan penurunan total aset BUMN. Ia justru menyebut sejumlah pemberitaan mengindikasikan konsolidasi aset BUMN meningkat. “Beberapa laporan menyebutkan bahwa total aset BUMN yang semula diperkirakan sekitar Rp9.000 triliun justru meningkat hingga kisaran Rp14.000 triliun. Kalau begitu, pertanyaannya menjadi bagaimana RoA bisa melonjak sampai 300 persen,” katanya.

Atas dasar itu, Ferdiansyah meminta Danantara menyampaikan penjelasan terbuka mengenai metode perhitungan yang digunakan. Ia tidak menutup kemungkinan adanya pendekatan penghitungan berbeda, namun menilai hal itu harus dikomunikasikan dengan jelas agar tidak memunculkan spekulasi. “Apakah ada metode perhitungan baru? Atau ada variabel lain yang belum dipublikasikan? Hal-hal seperti ini perlu dijelaskan secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi,” ungkapnya.

Ferdiansyah juga mengingatkan bahwa meski isu tersebut terkesan elitis dan tidak selalu menjadi perhatian masyarakat luas, keterbukaan data tetap penting, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang dipengaruhi dinamika geopolitik. Ia menilai Danantara perlu memaparkan secara terbuka total aset yang dikelola, laba bersih selama setahun terakhir, serta perbandingan RoA yang dicapai dengan tahun sebelumnya.

Menurutnya, transparansi menjadi krusial karena Danantara diproyeksikan sebagai sovereign wealth fund baru Indonesia yang diharapkan memiliki peran strategis di tingkat global. “Jika ingin menandingi lembaga seperti Temasek di Singapura, maka kredibilitas informasi menjadi hal yang sangat penting. Investor dan juga publik internasional tentu akan melihat sejauh mana transparansi dan akuntabilitas lembaga tersebut,” tegasnya.

Ia menambahkan, Presiden Prabowo dalam pidatonya juga sempat mengingatkan agar laporan yang masuk tidak sekadar menjadi laporan yang “menyenangkan atasan”. Bagi Ferdiansyah, hal itu menegaskan pentingnya akurasi dan kejujuran penyampaian data. Ia menilai langkah terbaik untuk meredam polemik adalah membuka informasi secara jelas kepada publik.