Penguatan tata kelola institusi berbasis keterbukaan dan akuntabilitas dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan perguruan tinggi swasta berbasis nilai sosial-keagamaan di Indonesia. Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) yang juga Direktur Direktorat Sumber Daya, Keuangan, dan Aset, Dr. Sahabuddin Nanda, saat mempresentasikan risetnya dalam forum ilmiah internasional di Osaka, Jepang.
Paparan tersebut disampaikan pada Society of Interdisciplinary Business Research (SIBR) 2026 Conference on Interdisciplinary Business and Economics Research yang berlangsung pada 2–4 Juli 2026. Riset berjudul The Mediating Role of Financial Performance in the Relationship Between Transparency, Accountability, and Institutional Sustainability: Evidence From Muhammadiyah Universities in Indonesia itu dikerjakan bersama tim akademisi Unismuh, yakni Dr. Idil Rakhmat Susanto dan Dr. Ismail.
Dalam pemaparannya, Sahabuddin menekankan bahwa isu keberlanjutan kelembagaan kini semakin strategis bagi perguruan tinggi. Menurutnya, pengelola kampus tidak hanya dituntut menjaga stabilitas finansial, tetapi juga menjamin mutu akademik, membangun legitimasi publik, serta beradaptasi di tengah persaingan yang semakin ketat.
Ia menambahkan, tantangan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) menjadi lebih kompleks karena mengusung identitas hibrid: menjalankan misi pelayanan publik dan dakwah sosial, sekaligus dituntut mandiri dan tangguh secara finansial.
Untuk membaca tantangan tersebut, penelitian ini mengumpulkan data kuantitatif dari 153 pimpinan dan pengelola keuangan PTMA di Indonesia. Berlandaskan kerangka Legitimacy Theory, analisis dilakukan dengan teknik Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) guna menguji pengaruh langsung maupun tidak langsung tata kelola terhadap keberlanjutan institusi melalui kinerja keuangan.
Hasil uji statistik menunjukkan transparansi dan akuntabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kinerja keuangan universitas. Keterbukaan informasi disebut dapat menurunkan asimetri informasi dan menumbuhkan kepercayaan para pemangku kepentingan.
Sementara itu, akuntabilitas yang dijalankan melalui kejelasan peran, audit, pengawasan Satuan Pengawas Internal (SPI), serta tindak lanjut temuan dinilai mampu menekan biaya agen, mencegah kebocoran anggaran, dan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya.
Penelitian ini juga menemukan bahwa kinerja keuangan berperan sebagai variabel mediasi yang menghubungkan tata kelola yang baik dengan keberlanjutan institusi jangka panjang. Menurut Sahabuddin, kinerja keuangan yang sehat—ditandai likuiditas terjaga, efisiensi pengeluaran, dan kemandirian pendapatan—memberikan ruang bagi universitas untuk terus berinvestasi pada peningkatan mutu akademik, teknologi, dan infrastruktur.
Namun, riset tersebut mencatat pola mediasi yang berbeda pada variabel transparansi. Ditemukan fenomena competitive partial mediation: transparansi dapat meningkatkan keberlanjutan secara tidak langsung melalui perbaikan kinerja keuangan, tetapi juga berpotensi berdampak langsung negatif terhadap keberlanjutan dalam jangka pendek apabila tidak diimbangi kesiapan tata kelola internal. Keterbukaan informasi yang berlebihan tanpa sistem manajemen yang matang dinilai dapat memicu tekanan administrasi, biaya kepatuhan tinggi, serta sorotan publik yang mengurangi fleksibilitas pengambilan keputusan.
Berbeda dengan itu, variabel akuntabilitas menunjukkan pola complementary partial mediation. Akuntabilitas dinilai memperkuat keberlanjutan kampus secara langsung melalui peningkatan kualitas keputusan manajemen, sekaligus secara tidak langsung melalui peningkatan kinerja keuangan. Kedua jalur tersebut disebut saling melengkapi dalam memperkuat daya saing dan daya tahan PTMA.
Sahabuddin menyebut temuan ini memberi kontribusi praktis bagi Unismuh Makassar dan PTMA secara umum. Ia menegaskan tata kelola di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah tidak semestinya berhenti pada pemenuhan formalitas administratif, melainkan perlu diintegrasikan ke dalam sistem manajemen kinerja keuangan yang efektif untuk menjaga eksistensi dan keberlanjutan kampus di masa depan.