Yusril Ihza Mahendra mempertanyakan hasil survei yang dilakukan Hamdi Muluk terkait penilaian intelektualitas para bakal calon gubernur DKI Jakarta. Ia menilai penelitian tersebut bukan riset psikologi, melainkan hanya survei opini dari responden yang ditanyai.
Menurut Yusril, responden dalam survei itu dipilih oleh Hamdi Muluk, dan penilaiannya didasarkan pada pendapat para pihak yang disebut sebagai pakar. Dalam survei tersebut, Hamdi Muluk menempatkan intelektualitas Yusril pada level paling bawah.
Menanggapi hal itu, Yusril menyarankan agar pihak yang ingin mengetahui tingkat kecerdasannya melihat dokumen tes yang pernah dijalaninya saat masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia.
"Kalau mau tanya berapa IQ saya, buka saja dokumennya di Fakultas Psikologi UI," tegas Yusril di Jakarta, Sabtu (6/8).
Pertanyakan pertanggungjawaban akademis
Selain mempersoalkan metode survei, Yusril juga mempertanyakan pertanggungjawaban akademis penelitian tersebut, yang disebut mengatasnamakan LPP-UI.
"Dimana pertanggubgjawaban akademis Hamdi?" tanya Yusril.
Tanggapan atas kritik Syahganda Nainggolan
Di sisi lain, Yusril menyatakan sependapat dengan pernyataan DR. Syahganda Nainggolan yang menyebut survei Hamdi Muluk sebagai kebohongan ilmiah. Pernyataan Syahganda itu disebut telah tersebar luas di media sosial dengan judul “Yusril, Jakarta dan Pelacur Intelektual.”
Yusril mengibaratkan penilaian intelektualitas seperti proses diagnosis penyakit, yang menurutnya harus dilakukan terlebih dahulu sebelum menarik kesimpulan. Ia menilai survei tersebut menyusun kesimpulan berdasarkan pendapat pihak-pihak yang tidak melakukan penilaian langsung terhadap dirinya maupun bakal calon gubernur lainnya.
"Hamdi Muluk menyimpulkan bahwa tingkat intelektualitas saya paling rendah di antara semua bakal calon gubernur berdasarkan pendapat 'para pakar' yang tak pernah 'mendiagnosis' intelektualitas baik balon gubernur yang lain maupun saya secara langsung," kata Yusril.

