Wafatnya Airlangga Pribadi Kusman dan Sunyi yang Tertinggal di Ruang Publik

Wafatnya Airlangga Pribadi Kusman dan Sunyi yang Tertinggal di Ruang Publik

Kabar wafatnya pakar politik Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman, cepat menjadi perbincangan luas di Indonesia.

Ia meninggal di Jakarta, Rabu (9/9), setelah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, akibat sakit yang dideritanya.

Informasi yang dihimpun menyebut ia sempat koma usai serangan tekanan darah tinggi, lalu dinyatakan meninggal pukul 13.35 WIB.

Di ruang publik yang sering gaduh oleh perebutan opini, kabar duka semacam ini terasa seperti jeda.

Jeda itu mengundang pertanyaan yang lebih dalam.

Bukan hanya siapa yang pergi, tetapi apa yang ikut hilang ketika seorang intelektual publik wafat.

-000-

Mengapa kabar ini menjadi tren

Tren bukan selalu tentang sensasi.

Sering kali, tren muncul karena publik merasakan kehilangan yang sukar diucapkan, lalu menyalurkannya lewat pencarian, unggahan, dan obituari singkat.

Ada setidaknya tiga alasan mengapa kabar wafatnya Airlangga Pribadi Kusman menjadi perhatian luas.

Pertama, ia bukan hanya akademisi kampus.

Pandangannya kerap menjadi rujukan media massa nasional, forum ilmiah, dan diskusi publik.

Ketika sosok yang rutin hadir menjelaskan politik tiba-tiba tiada, publik merasakan kekosongan yang nyata.

Kedua, ia memegang posisi struktural penting sebagai Ketua Program Studi S2 Ilmu Politik FISIP Unair.

Jabatan itu menandai tanggung jawab institusional, sekaligus menegaskan bahwa yang berpulang adalah penggerak ekosistem pengetahuan.

Ketiga, rekam jejak intelektualnya jelas dan terdokumentasi.

Ia menulis buku berbahasa Inggris yang terbit di Palgrave Macmillan pada 2019, serta karya lain pada 2022.

Dalam budaya digital, karya yang mudah ditelusuri mempercepat rasa kedekatan.

Orang membaca kembali, mengutip, lalu membagikan.

-000-

Fakta utama yang diketahui publik

Airlangga Pribadi Kusman, akrab disapa Angga, wafat di Jakarta pada 9 September.

Ia menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Ia disebut sempat koma setelah serangan tekanan darah tinggi.

Ia meninggal pada pukul 13.35 WIB.

Ia lahir di Jombang pada 23 November 1976.

Ia meraih gelar Ph.D bidang Politik dari Murdoch University, Australia, pada 2016.

Sepulang dari Australia, ia mengajar di Departemen Politik FISIP Unair.

Rektor Unair Prof Muhammad Madyan menyampaikan belasungkawa.

Ia menyebut Angga sebagai dosen berdedikasi tinggi.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Kamis (10/9) pagi.

-000-

Duka yang melampaui keluarga dan kampus

Berita duka biasanya berhenti pada keluarga dan sahabat.

Namun pada sosok seperti Angga, duka merembes ke ruang yang lebih lebar, yakni ruang publik.

Di sana, ia dikenal sebagai ilmuwan yang gigih membela nilai demokrasi dan keadilan sosial.

Kalimat itu terdengar formal, tetapi dampaknya konkret.

Demokrasi, dalam praktik sehari-hari, memerlukan penerjemah.

Ia memerlukan orang yang sanggup menjelaskan gejala politik tanpa mengubahnya menjadi propaganda.

Ia memerlukan penengah yang tidak mematikan konflik, tetapi menertibkannya agar tetap rasional.

Ketika seorang penerjemah politik pergi, kebisingan berisiko meningkat.

Bukan karena publik menjadi lebih bodoh.

Melainkan karena rujukan yang dipercaya menyusut.

-000-

Karya dan jejak intelektual yang membentuk ingatan

Angga dikenal lewat analisis yang tajam dan konsisten tentang dinamika politik Indonesia.

Konsistensi adalah kata kunci yang sering hilang dalam perdebatan harian.

Ia juga meninggalkan karya tulis yang menegaskan posisinya sebagai akademisi sekaligus intelektual publik.

Di antaranya, buku The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia's Post-Authoritarian Era terbit pada 2019.

Judul itu sendiri mengundang renungan.

“Vortex” atau pusaran memberi gambaran tentang kekuasaan yang menarik banyak orang, termasuk kaum terdidik, masuk ke pusat gravitasinya.

Ia juga menulis Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia pada 2022.

Buku itu menunjukkan minatnya pada narasi pembebasan, suatu tema yang selalu relevan ketika ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah.

-000-

Isu besar yang tersambung: demokrasi, keadilan sosial, dan kualitas percakapan publik

Wafatnya seorang pakar politik bukan sekadar pergantian nama dalam daftar dosen.

Peristiwa ini menyentuh isu besar yang penting bagi Indonesia.

Pertama, kualitas demokrasi sangat bergantung pada kualitas percakapan publik.

Percakapan publik memerlukan pengetahuan, konteks sejarah, dan kesediaan mendengar.

Ketika percakapan menyempit menjadi slogan, demokrasi kehilangan ruh deliberatifnya.

Kedua, keadilan sosial bukan hanya agenda kebijakan.

Ia juga agenda pengetahuan.

Tanpa kerangka analitis, ketidakadilan mudah dinormalisasi, seolah itu nasib, bukan pilihan politik.

Ketiga, hubungan kampus dan masyarakat semakin menentukan arah bangsa.

Kampus bukan menara gading jika ia mampu hadir sebagai sumber penjelasan, bukan sekadar penghasil gelar.

Dalam konteks itu, kepergian Angga terasa sebagai kehilangan simpul penghubung.

-000-

Kerangka riset untuk memahami mengapa sosok seperti ini penting

Berita duka sering berhenti pada biografi.

Namun, publik juga perlu bahasa konseptual untuk memahami peran intelektual dalam demokrasi.

Dalam ilmu politik, demokrasi modern bekerja melalui institusi dan norma.

Ia hidup jika ada akuntabilitas, partisipasi, serta kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab.

Di titik ini, peran akademisi menjadi penting sebagai produsen pengetahuan dan penjaga standar argumentasi.

Riset tentang “intelektual publik” kerap menekankan fungsi mediasi.

Mereka menjembatani temuan akademik dengan persoalan warga, tanpa merendahkan kompleksitasnya.

Riset lain menyoroti bahaya polarisasi.

Dalam situasi terpolarisasi, orang cenderung mencari informasi yang menguatkan keyakinan, bukan menguji kebenaran.

Di ruang seperti itu, suara yang tenang dan berbasis data menjadi semakin berharga.

Karya Angga tentang pusaran kekuasaan memberi petunjuk.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan pun bisa ditarik ke orbit kepentingan, jika tidak dijaga integritasnya.

-000-

Cermin dari luar negeri: ketika intelektual publik wafat dan negara ikut berduka

Indonesia bukan satu-satunya negara yang merasakan kehilangan ketika intelektual publik meninggal.

Di berbagai tempat, wafatnya akademisi yang aktif di ruang publik sering memicu refleksi kolektif.

Di Amerika Serikat, wafatnya tokoh seperti Edward Said pernah memunculkan diskusi luas tentang peran kritik, representasi, dan keberanian moral.

Di Inggris, kepergian sejarawan dan komentator publik kerap menghidupkan kembali debat tentang memori, kekuasaan, dan tanggung jawab intelektual.

Polanya mirip.

Publik bukan hanya berkabung, tetapi juga menilai ulang warisan gagasan, serta mempertanyakan siapa yang akan meneruskan tradisi berpikir kritis.

Perbandingan ini tidak dimaksudkan menyamakan konteks.

Namun, ia menunjukkan bahwa di mana pun, demokrasi membutuhkan orang-orang yang mengolah kerumitan menjadi pemahaman, bukan menjadi kebencian.

-000-

Kesehatan sebagai pengingat sunyi di balik kerja intelektual

Informasi yang beredar menyebut Angga mengalami serangan tekanan darah tinggi dan sempat koma.

Detail ini membawa kita pada sisi yang jarang dibahas.

Kerja intelektual sering tampak seperti kerja kepala semata.

Padahal ia juga kerja tubuh, kerja emosi, dan kerja waktu.

Jadwal mengajar, menulis, meneliti, berbicara di forum, lalu menjawab pertanyaan media, semuanya menyita energi.

Di masyarakat yang menuntut respons cepat, orang yang berpikir pelan sering memikul beban tambahan.

Ia harus menjelaskan mengapa kehati-hatian itu penting.

Kepergian Angga mengingatkan bahwa di balik argumen yang rapi, ada manusia yang rapuh.

-000-

Apa yang bisa dipelajari publik dari kabar duka ini

Pelajaran pertama adalah tentang merawat tradisi berpikir.

Jika satu suara rujukan hilang, masyarakat perlu memperbanyak sumber pengetahuan yang kredibel.

Pelajaran kedua adalah tentang etika berkabung di era digital.

Kecepatan berbagi kabar harus diimbangi ketepatan, dan penghormatan pada keluarga.

Pelajaran ketiga adalah tentang menghargai kerja akademik sebagai kerja publik.

Sering kali, karya ilmiah baru dihargai ketika penulisnya tiada.

Padahal penghargaan yang paling berguna adalah dukungan saat mereka masih bisa mengajar, menulis, dan membimbing.

-000-

Rekomendasi: bagaimana isu ini sebaiknya ditanggapi

Pertama, kampus dan komunitas akademik perlu merawat arsip gagasan.

Karya, kuliah, dan diskusi almarhum dapat dihimpun secara rapi agar tetap bisa diakses mahasiswa dan publik.

Kedua, media massa dapat menanggapi dengan memperluas konteks.

Bukan sekadar mengutip duka, tetapi juga mengangkat warisan pemikiran, sehingga publik memahami kontribusinya secara utuh.

Ketiga, publik bisa menanggapi dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Membaca karya-karyanya, mendiskusikannya tanpa kultus individu, lalu meneruskan kebiasaan bertanya dengan jernih.

Keempat, institusi dapat memperkuat regenerasi.

Ruang bagi peneliti muda, forum diskusi, dan budaya menulis perlu ditopang agar tradisi intelektual tidak bergantung pada satu-dua nama.

-000-

Penutup: kehilangan yang mengundang tanggung jawab

Rektor Unair menyebut kepergian Angga sebagai kehilangan besar bagi panggung intelektual Indonesia.

Kalimat itu benar, tetapi ia juga sebuah panggilan.

Panggung intelektual tidak hidup dari kenangan saja.

Ia hidup dari keberanian untuk berpikir jernih, bahkan ketika itu tidak populer.

Di tengah perubahan politik yang cepat, bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang setia pada metode, bukan pada kebisingan.

Dan lebih banyak orang yang menganggap keadilan sosial sebagai kerja panjang, bukan slogan musiman.

Di ujung duka, kita diingatkan bahwa gagasan yang baik tidak berhenti pada penulisnya.

Ia menunggu untuk diteruskan, diuji, dan dipakai melayani publik.

“Kita tidak mewarisi dunia dari para pendahulu, kita meminjamnya dari anak cucu.”