Sebuah video yang beredar di media sosial diklaim memperlihatkan ledakan di tambang batubara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China, yang terjadi pada 22 Mei 2026. Klaim tersebut muncul setelah insiden ledakan gas di tambang itu dilaporkan menewaskan 82 pekerja.
Namun, penelusuran menunjukkan narasi yang menyertai video tersebut tidak sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya. Video itu diketahui bukan rekaman ledakan di Shanxi pada 2026, melainkan peristiwa lain yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Video dengan keterangan seperti “Ledakan Terbesar Tambang Batu Bara Terjadi d Shanxi China Tewaskan Setidaknya 90 Orang” dibagikan oleh sejumlah akun Facebook. Unggahan tersebut mengaitkan video dengan insiden ledakan gas di tambang Liushenyu.
Berdasarkan penelusuran menggunakan teknik reverse image search, video yang sama telah beredar sejak 2023, jauh sebelum ledakan gas di Shanxi pada Mei 2026. Rekaman itu identik dengan unggahan di kanal YouTube CCTV Video News Agency yang menyebutkan peristiwa dalam video adalah longsor tambang batubara di Alxa League, Daerah Otonomi Mongolia Dalam, China, pada Februari 2023.
Dikutip dari Xinhua, longsor di tambang batubara Alxa League mengakibatkan 53 orang meninggal dunia dan enam orang luka-luka. Sementara itu, ledakan gas di tambang batubara Liushenyu, Provinsi Shanxi, pada 22 Mei 2026 dilaporkan menewaskan 82 orang. Selain itu, terdapat 28 orang yang dirawat di rumah sakit, dengan sebagian besar korban terdampak akibat menghirup gas beracun.
Dengan demikian, video yang diklaim sebagai rekaman ledakan tambang Liushenyu di Shanxi pada 22 Mei 2026 merupakan informasi keliru. Video tersebut sebenarnya memperlihatkan peristiwa longsor tambang batubara di Alxa League, Mongolia Dalam, pada Februari 2023.