Video Klaim Tentara Israel Ditangkap Iran di Selat Hormuz Terbukti Rekayasa AI

Video Klaim Tentara Israel Ditangkap Iran di Selat Hormuz Terbukti Rekayasa AI

Konflik antara koalisi Israel-Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung. Di tengah situasi yang memanas, beredar di media sosial sebuah video yang mengklaim Iran menangkap sejumlah tentara Israel yang disebut mencoba masuk ke wilayah Iran melalui Selat Hormuz.

Video tersebut dibagikan sejumlah akun Facebook dan menampilkan beberapa orang yang terlihat diamankan di sebuah lokasi di tepi laut. Salah satu unggahan menyertakan keterangan, “Detik-detik tentara Israel yang mencoba masuk ke IRAN melalui selatan Hormuz ditangkap.”

Namun, hasil penelusuran menunjukkan klaim itu tidak benar. Video yang beredar teridentifikasi sebagai rekayasa berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Akun yang membagikan video tersebut juga tercatat kerap mengunggah konten hasil rekayasa AI terkait konflik Iran dan Israel.

Verifikasi menggunakan alat pendeteksi Hive Moderation menunjukkan video itu memiliki probabilitas 96,3 persen sebagai konten yang dihasilkan AI. Selain itu, penelusuran melalui Google Search tidak menemukan informasi atau pemberitaan valid mengenai penangkapan tentara Israel yang disebut mencoba masuk ke wilayah Iran melalui Selat Hormuz.

Dalam konteks konflik yang memanas sejak akhir Februari 2026, Iran disebut menutup Selat Hormuz. Selat ini memiliki posisi strategis sebagai jalur utama keluar-masuk minyak dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional. Penutupan jalur tersebut dilaporkan memicu kekacauan di pasar minyak global, dengan kekhawatiran harga minyak terus naik jika penutupan berlanjut.

Sebelumnya, beredar pula video manipulasi AI lain di media sosial yang mengklaim Iran menangkap 837 tentara Israel. Klaim tersebut juga telah dinyatakan sebagai konten rekayasa.

Kesimpulannya, video yang menyebut Iran menangkap tentara Israel karena mencoba masuk wilayah Iran melalui Selat Hormuz merupakan hasil rekayasa AI dan tidak didukung bukti maupun laporan tepercaya.