Uni Eropa Tetapkan Standar Baru Pembekuan Tuna untuk Konsumsi Langsung, Berlaku Mulai 2026

Uni Eropa Tetapkan Standar Baru Pembekuan Tuna untuk Konsumsi Langsung, Berlaku Mulai 2026

Uni Eropa memperketat aturan pembekuan tuna yang ditujukan untuk konsumsi manusia secara langsung melalui Peraturan Delegasi (EU) 2025/1449. Ketentuan ini mengubah Lampiran III Peraturan (EC) No. 853/2004 dan menetapkan standar baru yang harus dipenuhi pelaku usaha jika ingin memasarkan produk tuna tertentu ke pasar Uni Eropa.

Dalam aturan tersebut, tuna untuk konsumsi langsung—seperti sashimi, steak, dan bagian pinggang—wajib dibekukan hingga suhu inti -18°C atau lebih rendah. Ketentuan ini mencakup pembekuan menggunakan air garam di atas kapal. Uni Eropa juga menyatakan hanya kapal yang memiliki sistem pembekuan air garam bersertifikat dan memenuhi seluruh persyaratan teknis yang diperbolehkan memasok jenis tuna ini ke pasar Uni Eropa.

Selain persyaratan suhu, proses pengendalian pembekuan harus dipantau dan dicatat. Data pemantauan wajib disimpan untuk keperluan inspeksi resmi oleh otoritas Uni Eropa. Uni Eropa menilai ketentuan ini sebagai peningkatan signifikan dalam aspek ketertelusuran, transparansi, serta kepatuhan teknis di sepanjang rantai pasok tuna.

Peraturan ini akan mulai berlaku pada 27 Januari 2026. Setelah tanggal tersebut, tuna yang tidak memenuhi persyaratan pembekuan -18°C tidak akan diizinkan masuk ke Uni Eropa apabila diklasifikasikan sebagai produk untuk konsumsi manusia secara langsung.

Alasan pengetatan aturan juga dijelaskan dalam laporan inspeksi resmi Uni Eropa. Dalam laporan tersebut, ditemukan praktik pembekuan tuna dengan air garam pada kisaran -9°C yang kemudian dipasarkan sebagai tuna segar atau belum diolah. Uni Eropa mengidentifikasi praktik itu sebagai penipuan perdagangan dan menilai ada potensi risiko keamanan pangan, terutama terkait penumpukan histamin yang dapat memicu keracunan scombroid. Karena itu, Uni Eropa menstandarkan ambang batas pembekuan menjadi -18°C untuk meningkatkan keamanan pangan dan transparansi pasar.

Asosiasi Pengolahan dan Ekspor Makanan Laut Vietnam (VASEP) menekankan bahwa aturan baru ini tidak berlaku untuk semua produk tuna, melainkan berfokus pada tuna yang ditujukan untuk konsumsi langsung. Menurut VASEP, pengiriman tuna yang dibekukan pada suhu di atas -18°C berisiko ditolak oleh bea cukai atau diminta mengubah tujuan penggunaan, misalnya dialihkan menjadi bahan baku untuk pengolahan lebih lanjut, bergantung pada penilaian otoritas Uni Eropa.

VASEP juga merinci contoh produk yang umumnya dianggap untuk konsumsi langsung, antara lain tuna segar atau beku untuk sashimi dan sushi, steak tuna, potongan atau fillet tuna beku, tuna beku yang dicairkan lalu dijual sebagai “segar” di Uni Eropa, serta tuna beku yang hanya mengalami pemrosesan ringan seperti pemotongan, pembersihan, pengelompokan ukuran, atau pengemasan ulang. Untuk kategori ini, pembekuan hingga -18°C pada bagian inti menjadi kewajiban, termasuk bila menggunakan metode pembekuan air garam.

Sementara itu, produk yang tidak dianggap untuk konsumsi langsung—dan karenanya tidak termasuk dalam pengetatan persyaratan pembekuan pada aturan baru—mencakup tuna untuk bahan baku pengolahan industri seperti tuna kalengan, tuna kukus atau matang, tuna steril, tuna matang, tuna asap, atau tuna yang telah melalui perlakuan panas tinggi. Tuna yang diimpor untuk diproses lebih lanjut sebelum dipasarkan kepada konsumen juga tidak dikategorikan sebagai konsumsi langsung. Meski demikian, VASEP mengingatkan bahwa persyaratan keamanan pangan umum Uni Eropa lainnya tetap harus dipatuhi.

Menurut VASEP, penekanan Uni Eropa pada kategori konsumsi langsung berkaitan dengan risiko akumulasi histamin yang lebih tinggi apabila pembekuan tidak cukup rendah, sekaligus adanya potensi penipuan komersial—misalnya tuna yang dibekukan pada -9°C namun dijual sebagai ikan segar. Adapun produk yang menjalani pengolahan panas atau pasteurisasi dinilai memiliki risiko lebih rendah karena proses tersebut dapat mengurangi risiko keamanan pangan.

Menghadapi perubahan ini, VASEP merekomendasikan agar perusahaan meninjau sumber bahan baku dan metode pembekuan di atas kapal, serta bekerja sama dengan mitra operasional dan manajer armada untuk memastikan peralatan dan proses memenuhi persyaratan baru. VASEP juga mendorong pelaku usaha mengklasifikasikan secara jelas pengiriman untuk konsumsi langsung dan pengiriman untuk pengolahan industri sejak awal, serta mencantumkan tujuan penggunaan dalam dokumen teknis, kontrak, dan dokumen ekspor. Koordinasi dengan mitra di Uni Eropa dinilai penting agar tujuan penggunaan akhir disepakati, sehingga mengurangi risiko penolakan bea cukai atau perubahan tujuan penggunaan saat barang tiba.