UB Angkat Krisis Air ke Forum UNESCO, Dorong Isu Lingkungan Masuk Kurikulum dan Kerja Sama Global

UB Angkat Krisis Air ke Forum UNESCO, Dorong Isu Lingkungan Masuk Kurikulum dan Kerja Sama Global

Krisis sumber daya air yang memicu banjir, hilangnya mata air, hingga ketimpangan akses air bersih di sejumlah daerah menjadi sorotan dalam forum internasional yang digelar Universitas Brawijaya (UB) bersama UNESCO pada Senin (11/5/2026). Melalui forum tersebut, UB menempatkan isu krisis air tidak hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai agenda strategis yang terkait dengan pendidikan, riset, dan diplomasi internasional.

Forum bertajuk Water Future for All 2026 yang digelar dalam rangka World Water Week 2026 memosisikan air sebagai tantangan global yang berkelindan dengan ketahanan sosial, pembangunan wilayah, serta ketimpangan gender. Wakil Ketua Pelaksana kegiatan, Abdul Aziz Jaziri, mengatakan ancaman kerusakan sumber daya air di Malang Raya menjadi salah satu alasan mengapa kampus perlu mengambil peran yang lebih konkret.

“Teman-teman juga paham, ada banyak sekali problem lingkungan air, mulai dari banjir sampai kehilangan mata air yang kita hadapi. Ini bagian dari Universitas Brawijaya untuk secara lebih terstruktur merespon itu semua,” kata Abdul Aziz.

Ia menilai pendekatan kampus selama ini kerap berhenti pada kajian akademik dan belum sepenuhnya masuk ke sistem pendidikan maupun kebijakan kampus. Karena itu, UB mendorong agar isu pengelolaan air dan lingkungan terintegrasi ke dalam kurikulum melalui pendekatan civic literacy atau literasi kewargaan yang berbasis kesadaran lingkungan global.

“Hari ini kita membutuhkan level baru dari pendidikan kewarganegaraan. Kesadaran lingkungan, terutama aspek-aspek global, sudah menjadi keharusan masuk ke civic literacy,” ujarnya.

Abdul Aziz menegaskan persoalan air tidak dapat dipisahkan dari dampak sosial yang lebih luas. Menurutnya, konsep “kampus berdampak” perlu diterjemahkan melalui kontribusi nyata ilmu pengetahuan terhadap persoalan masyarakat, terutama ancaman krisis air yang kian terasa di kawasan perkotaan maupun pesisir.

“Air dan pelestarian sumber daya air menjadi tantangan besar di Malang Raya. Ini bagian dari strategi memberikan dampak ke negeri, kebangsaan, dan negara,” katanya.

Dalam penguatan arah internasionalisasi, UB juga mengembangkan program UNESCO Chair bertema Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas atau SEACoM. Program ini diarahkan untuk menempatkan ketahanan air sebagai fokus kerja sama internasional, sekaligus memperkuat posisi UB dalam jejaring global.

Di tengah proses tersebut, UB dipercaya menerjemahkan ringkasan eksekutif laporan resmi PBB tentang perkembangan air dunia, World Water Development Report 2026, ke dalam bahasa Indonesia. Laporan global yang diterbitkan UNESCO tahun ini menyoroti ketimpangan gender dalam pengelolaan sumber daya air.

“Terjemahan bahasa Indonesianya sudah dikirim ke Paris dan diluncurkan bersama bahasa resmi UNESCO lainnya pada 19 Maret,” ujar Abdul Aziz.

Ketua Harian Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma Seta, menilai langkah UB menunjukkan munculnya perguruan tinggi di Indonesia yang berani menjadikan isu global sebagai bagian dari identitas institusi. “Universitas Brawijaya telah menjadi driver di dalam kerja sama dengan UNESCO,” kata Ananto.

Ia menyebut selama ini isu-isu UNESCO di Indonesia lebih banyak bergerak pada level seremoni dan program terbatas. Sementara itu, UB dinilai mulai memasukkan isu keberlanjutan air, lingkungan, dan tata kelola global ke dalam sistem kampus secara lebih permanen.

“Brawijaya bukan sekadar nama. Ada tanggung jawab besar seperti era Majapahit yang dulu menjadi pusat peradaban. Sekarang waktunya diterjemahkan menjadi keunggulan global yang relevan dengan tantangan dunia,” ujarnya.

Sorotan lain terkait krisis air disampaikan Dr Engin Koncagul dari UNESCO Regional Office Jakarta. Ia menilai pengelolaan air dunia masih menghadapi ketimpangan besar, terutama dalam keterlibatan perempuan pada level pengambilan keputusan.

“Setengah populasi dunia adalah perempuan, sekitar empat miliar orang. Namun dalam pengelolaan sumber daya air dan pengambilan keputusan tingkat tinggi, masih terjadi kesenjangan gender yang besar,” kata Engin Koncagul.

Menurutnya, ketimpangan tersebut membuat persoalan air tidak semata isu lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan akses terhadap sumber daya dasar kehidupan. Ia juga mengapresiasi UB sebagai perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerjemahkan laporan air dunia UNESCO ke dalam bahasa Indonesia. “University of Brawijaya took the lead in translating this global report into bahasa,” ujarnya.