Film Na Willa menghadirkan sejumlah tokoh yang membawa isu sosial ke dalam cerita dengan sudut pandang anak-anak. Melalui pengalaman para karakternya di lingkungan Krembangan, film ini menyinggung persoalan rasisme, disabilitas pada anak, hingga pernikahan dini, dengan kemasan yang sederhana namun bermakna.
Na Willa: potret rasisme sejak usia sekolah
Tokoh Na Willa digambarkan sebagai anak keturunan Tionghoa-Ambon yang mengalami perlakuan rasisme sejak hari-hari awal bersekolah. Sebagai siswa baru, Willa mendapat berbagai perlakuan tidak menyenangkan, mulai dari disebut pembohong oleh guru kelas, diejek teman semeja, hingga diteriaki kata-kata kasar oleh teman-temannya sambil dijambak.
Meski adegan tersebut dibungkus dalam kekacauan khas anak-anak taman kanak-kanak, film ini menandai bahwa rasisme dapat tumbuh dan berakar sejak dini. Perlakuan terhadap Willa juga menjadi kritik atas kegagalan orang dewasa dalam membentuk karakter anak yang memahami dan menghargai keragaman.
Dul: representasi disabilitas anak
Dul, salah satu teman dekat Willa di Krembangan, digambarkan sebagai anak yang bebas, menyukai tantangan, dan memiliki mimpi mengejar kereta dengan kemampuan berlarinya. Ia kerap mengajak teman-temannya bermain ke stasiun untuk melampaui kecepatan kereta, namun ajakan itu sering ditolak karena alasan keamanan.
Dalam satu peristiwa, Dul mengajak Willa melihat kereta lewat jalan tikus yang ia temukan dan meminta bantuan Willa membaca tanda-tanda karena Willa sudah bisa membaca. Namun, Mak yang mendengar ajakan itu berbohong kepada Dul bahwa Pak akan pulang, sehingga Willa tidak bisa ikut.
Dul akhirnya pergi sendiri. Beberapa menit kemudian, Krembangan heboh karena ada anak mengalami kecelakaan kereta. Anak itu adalah Dul. Kecelakaan tersebut membuatnya kehilangan fungsi kaki dan harus menggunakan kaki palsu dari kayu.
Meski menjadi representasi anak disabilitas, Dul digambarkan mampu berdamai dengan kondisinya. Dari sudut pandangnya sebagai anak-anak, ia mengaku bangga karena kakinya tidak sakit lagi dan bisa mengeluarkan bunyi.
Martini (Mbak Tin): gambaran pernikahan dini
Isu lain muncul lewat tokoh Martini alias Mbak Tin, kakak dari Farida, salah satu sahabat Willa. Dalam sebuah adegan, Farida mengajak Willa ke rumahnya saat banyak orang tengah memasak untuk sebuah acara. Farida kemudian mengajak Willa makan kue cucur di kamar Mbak Tin sambil memberi tahu bahwa kakaknya akan segera menikah.
Saat mendengar pembicaraan itu, Mbak Tin menangis tersedu-sedu. Namun Farida menganggapnya wajar, karena menurutnya orang yang akan menikah memang menangis sebelum hari pernikahan.
Potret ketidakbahagiaan Mbak Tin tidak sekadar menjadi adegan kepolosan anak-anak. Tokoh remaja ini merepresentasikan fenomena pernikahan dini yang tidak bisa ditolaknya dan dianggap sebagai hal yang lazim.
Melalui tiga tokoh tersebut, Na Willa menempatkan isu-isu sosial dalam cerita yang dapat diikuti penonton lintas usia. Film ini membalut tema-tema berat dengan narasi yang sederhana, sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk menangkap makna yang tersirat dari pengalaman para tokohnya.

