Jakarta – Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) melakukan pengamatan terhadap perilaku calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2014 untuk memetakan karakter serta gaya kepemimpinan mereka. Dalam hasil penelitian tersebut, calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo (Jokowi), dinilai sebagai sosok pemimpin yang pekerja keras, sederhana, dan jujur.
Penelitian ini dilakukan melalui kerja sama dengan Ikatan Psikologi Klinis Indonesia, Ikatan Psikologi Sosial Indonesia, serta Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Kajian tersebut ditujukan untuk memproyeksikan bagaimana seorang pemimpin berpotensi membangun relasi dengan para menteri di kabinet, menentukan corak kebijakan publik maupun internasional, serta menangani potensi konflik selama masa pemerintahan.
Tiga rangkaian studi dan metode “psychological at distance”
Penelitian dilakukan melalui tiga rangkaian studi, yakni:
- Survei terhadap 204 psikolog untuk menilai aspek kepribadian,
- Analisis psikobiografi,
- Analisis pidato serta wawancara kandidat di berbagai media.
Ketiga pendekatan ini disebut sebagai metode menakar aspek kepribadian dari jarak jauh (psychological at distance).
Penilaian terhadap Jokowi: motivasi, gaya kepemimpinan, dan cara berelasi
Dalam laporan penelitian, Jokowi disebut berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan. Pengalaman masa kecil itu dinilai membentuk dirinya menjadi pribadi yang sederhana. Peneliti juga mencatat Jokowi pada awalnya dikenal sebagai pengusaha mebel di Solo dan dinilai tidak tampak memiliki ambisi berkuasa yang tinggi. Ia baru memutuskan maju sebagai Wali Kota Solo setelah mendapat dukungan dari rekan-rekan sesama pengusaha.
Hasil survei dalam penelitian tersebut menyebutkan responden menilai Jokowi memiliki motivasi berkuasa paling kecil dibanding kandidat lain (M=6,36). Namun, ia dinilai memiliki motivasi berprestasi (M=8,06) dan afiliasi (M=7,95) yang lebih tinggi dibanding kandidat lain. Ini diartikan sebagai kecenderungan untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan membina hubungan dengan orang lain.
Terkait kepemimpinan, Jokowi dinilai memiliki gaya kepemimpinan demokratis (N=87%).
Kompleksitas kognitif dan implikasi kebijakan
Survei juga menunjukkan Jokowi dinilai memiliki kompleksitas kognitif yang tinggi. Kompleksitas kognitif diasosiasikan dengan perilaku adaptif yang lebih baik, terutama ketika menghadapi situasi ambigu dan membingungkan. Dalam penilaian responden, Jokowi memiliki rata-rata kompleksitas kognitif lebih tinggi dibanding kandidat lain.
Ia dinilai mampu mengeluarkan ide untuk mengatasi persoalan negara (M=7,73) serta mampu melihat permasalahan secara komprehensif dan menerjemahkannya menjadi kebijakan konkret (M=7,79). Namun demikian, ia juga dinilai memiliki latar belakang pendidikan akademis yang kurang memadai dibanding kandidat lain (M=7,49). Kompleksitas kognitif ini disebut berimplikasi pada kebijakan kreatif yang pernah dilakukan Jokowi, seperti lelang jabatan lurah.
Stabilitas emosi dan pengambilan keputusan
Dalam aspek relasi interpersonal, Jokowi dinilai cenderung menawarkan pola hubungan yang hangat (M=8,20) dan memiliki kesopanan atau kerendahan hati yang memadai saat berhubungan dengan orang lain (M=8,36). Ia juga dinilai menyukai hal-hal baru dan berbeda (M=8,02), serta memiliki ketelitian dan kejelian saat menghadapi persoalan (M=7,38).
Secara emosional, Jokowi dinilai lebih stabil dibanding kandidat lain (M=7,67). Di sisi lain, ia juga dinilai terkesan lebih lemah dan mudah percaya pada orang lain dibanding kandidat lain (M=6,99). Meski begitu, sebagian responden menilai karakteristik Jokowi yang menonjol adalah ketegasan dalam mengambil keputusan.
Dalam pengambilan keputusan, sebagian besar responden memprediksi Jokowi lebih mau mendengar pendapat orang lain daripada memaksakan pendapatnya sendiri (N=66%). Responden juga memprediksi ia lebih mau mendengar pendapat menteri-menteri di kabinet dibanding orang-orang dekatnya saat mengambil keputusan terkait kebijakan negara (N=64%).
Terkait kondisi psikologis saat menghadapi persoalan, Jokowi diprediksi mampu bekerja di bawah tekanan ketika menghadapi masalah berat dan kompleks (M=7,56). Adapun terkait potensi kelelahan fisik dan mental ketika sudah menjabat, penilaian yang dicatat dalam penelitian menunjukkan skor (M=4,64).

