Industri perfilman di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam 15 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang dinilai signifikan. Perkembangan itu mulai menempatkan NTT sebagai bagian penting dalam peta perfilman nasional, seiring meningkatnya aktivitas sineas lokal yang tidak hanya memproduksi karya, tetapi juga memperjuangkan identitas budaya serta menyuarakan isu sosial melalui film.
Filmmaker asal Kupang, Vickram Sombu, mengatakan perhatian pemerintah pusat, khususnya kementerian terkait, mulai bergeser ke wilayah timur Indonesia. Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal yang beragam kepada khalayak yang lebih luas.
Meski jumlah komunitas film di NTT disebut belum sebanyak di Pulau Jawa, semangat sineas muda di daerah itu dinilai kuat. Mereka terus belajar dan berproses untuk menghasilkan karya berkualitas, termasuk mengemas budaya lokal dengan pendekatan yang lebih relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Salah satu contoh pendekatan kreatif tersebut terlihat dari penggunaan simbol budaya “Oko Mama” dalam sebuah film terbaru. Simbol itu tidak hanya ditampilkan sebagai identitas budaya, tetapi juga digunakan sebagai medium kritik sosial, antara lain untuk menggambarkan kasus kekerasan seksual dan perdagangan orang yang masih menjadi persoalan di masyarakat.
Di tingkat nasional, sineas NTT juga mencatat capaian melalui film dokumenter berjudul “CIE” yang meraih Piala Citra pada ajang Festival Film Indonesia tahun lalu. Vickram menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa kualitas karya sineas daerah mampu bersaing secara nasional.
Namun, ia menyebut para filmmaker di NTT masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan akses produksi berskala besar serta minimnya institusi pendidikan formal di bidang sinematografi. Kondisi itu membuat banyak sineas belajar secara otodidak, dengan ruang produksi menjadi laboratorium utama mereka.
Dari sisi pendanaan, Vickram mengatakan industri film lokal masih bergantung pada dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata. Program bantuan yang tersedia umumnya melalui proses seleksi yang ketat dan kompetitif. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah lebih serius melihat potensi ekonomi kreatif ini, termasuk melalui penyelenggaraan festival film tingkat nasional di NTT.
Vickram juga menekankan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan industri film daerah. Dukungan sederhana seperti menonton dan mengapresiasi karya film lokal dinilai dapat memperkuat ekosistem perfilman NTT sekaligus memperkenalkan identitas budaya kepada generasi masa kini.

