Isu safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendadak menjadi tren karena menyentuh urat nadi politik Indonesia.
Ia bukan sekadar kabar kunjungan ke daerah, melainkan cerita tentang perebutan basis pemilih, masa depan partai kecil, dan kecemasan partai mapan.
Di tengah ingatan publik tentang kuatnya magnet Jokowi, safari itu dibaca sebagai sinyal: ada energi politik yang sedang diarahkan.
Peneliti Senior Politik BRIN, Lili Romli, menilai partai-partai di DPR perlu mewaspadai langkah tersebut.
Menurut Lili, safari Jokowi berpotensi menggerus dukungan partai-partai yang kini memiliki kursi parlemen.
“Ya betul perlu diwaspadai. Mereka juga tidak mau basis pendukungnya bermigrasi ke PSI,” kata Lili saat dihubungi, Kamis (28/5/2026).
-000-
Mengapa Isu Ini Meledak di Google Trends
Tren muncul karena safari politik selalu memantik rasa ingin tahu publik tentang “siapa mendukung siapa” setelah kekuasaan formal berakhir.
Nama Jokowi masih menjadi kata kunci yang memecah percakapan menjadi dua: kekaguman dan kecurigaan.
PSI, di sisi lain, adalah partai yang sering dipersepsikan sebagai pendatang baru yang mencari jalan masuk ke panggung besar.
Alasan pertama, isu ini menyentuh ketegangan antarpartai yang nyata.
Jika dukungan bergeser, kursi parlemen dan peta koalisi dapat berubah, bahkan sebelum kampanye resmi dimulai.
Alasan kedua, safari itu dibaca sebagai strategi elektoral jangka panjang menuju Pemilu 2029.
Lili menyebut safari diduga kuat bertujuan mendongkrak elektabilitas PSI agar lolos parlemen pada pemilu mendatang.
Alasan ketiga, publik melihatnya sebagai uji loyalitas pendukung Jokowi setelah ia tidak lagi menjabat presiden.
Di sinilah rasa penasaran bekerja: apakah loyalitas itu melekat pada sosok, atau berpindah mengikuti arah yang ditunjuk.
-000-
Peringatan untuk Partai Parlemen: Migrasi Basis dan Naluri Bertahan
Lili menilai partai-partai di DPR tidak akan tinggal diam bila basis pemilihnya mulai bergeser ke PSI.
Politik elektoral, pada titik tertentu, adalah kompetisi mempertahankan wilayah dukungan.
Ketika satu aktor berkeliling, aktor lain membaca peta ancaman, lalu menyiapkan pagar.
Dalam penilaian Lili, kekhawatiran itu makin kuat jika ambang batas parlemen atau parliamentary threshold tetap diberlakukan.
Ambang batas membuat persaingan lebih tajam, karena suara yang terpencar dapat berujung pada kegagalan masuk parlemen.
“Jika PT tetap dipertahankan, tentu juga partai-partai yang ada tidak akan rela suaranya beralih,” kata Lili.
Kalimat itu menggambarkan naluri dasar organisasi politik: bertahan hidup.
Partai yang sudah berada di DPR memiliki insentif besar untuk mencegah “pendatang baru” mengambil ceruk yang sama.
Dalam konteks ini, safari bukan lagi kegiatan seremonial.
Safari menjadi simbol kompetisi sumber daya paling mahal dalam demokrasi: perhatian publik dan kesetiaan pemilih.
-000-
Tujuan yang Dibaca: Mendongkrak PSI dan Memperluas Basis di Luar Jawa Tengah
Lili menyebut kunjungan Jokowi ke berbagai daerah bukan hanya menyapa masyarakat.
Safari itu dipandang sebagai upaya menjaga loyalitas pendukung agar memberi dukungan politik kepada PSI.
“Saya kira, safari politik tersebut dalam rangka untuk mendongkrak elektabilitas PSI agar lolos di parlemen,” ujar Lili.
Ia melanjutkan, para pendukung bukan hanya disambangi, tetapi diarahkan agar nanti memberikan dukungan dan suara bagi PSI.
Di sini, politik bekerja melalui kedekatan.
Kunjungan fisik memberi pesan psikologis: pemimpin masih hadir, masih melihat, dan masih mengingat.
Lili juga menilai safari itu tampaknya untuk melebarkan basis PSI agar kuat di luar Jawa Tengah.
Jawa Tengah selama ini dianggap sebagai salah satu basis utama dukungan Jokowi.
Jika basis diperluas, maka PSI tidak hanya bertumpu pada satu wilayah imajiner, tetapi mencoba menjadi kendaraan nasional.
Namun Lili menegaskan, keberhasilan safari dalam mendongkrak suara PSI masih harus dibuktikan.
Pertanyaan kuncinya sederhana, tetapi dampaknya besar: seberapa jauh loyalitas pemilih bertahan tanpa kekuasaan formal.
-000-
Ujian Loyalitas: Personalisasi Politik dan Daya Tahan Dukungan
Lili menyebut safari itu sekaligus ajang menguji apakah pendukung Jokowi masih loyal setelah ia tidak lagi menjabat.
Ini menyentuh fenomena yang sering dibahas dalam studi politik: personalisasi.
Ketika dukungan melekat pada figur, partai bisa menjadi sekunder.
Namun ketika figur tidak lagi memegang jabatan, dukungan diuji oleh realitas baru.
Apakah pemilih tetap mengikuti figur ke partai tertentu.
Atau pemilih kembali pada identitas lama, jaringan lokal, dan pertimbangan programatik yang lebih stabil.
Dalam bahasa Lili, safari itu “uji coba” bagi Jokowi.
Uji coba itu juga menjadi cermin bagi partai lain, karena memperlihatkan seberapa rapuh basis mereka sebenarnya.
-000-
Kaitan dengan Isu Besar Indonesia: Kualitas Representasi dan Kompetisi yang Sehat
Isu ini penting bukan semata karena menyangkut PSI atau Jokowi.
Ia penting karena menyentuh pertanyaan besar tentang kualitas representasi politik di Indonesia.
Demokrasi membutuhkan partai yang kuat, tetapi juga membutuhkan kompetisi yang adil.
Jika pemilih berpindah karena kedekatan figur semata, representasi bisa menjadi lebih emosional daripada deliberatif.
Namun jika perpindahan itu lahir dari evaluasi kinerja, ia dapat memperbaiki akuntabilitas.
Di titik inilah publik perlu membedakan antara mobilisasi dukungan dan pendidikan politik.
Safari dapat dibaca sebagai mobilisasi.
Ia bisa efektif, tetapi belum tentu memperkaya percakapan tentang program, kebijakan, dan kepentingan publik.
Isu ini juga terkait dengan desain sistem kepartaian.
Ambang batas parlemen, yang disebut Lili, menegaskan bahwa aturan teknis dapat membentuk perilaku politik secara dramatis.
Dalam riset ilmu politik, desain institusi sering memengaruhi jumlah partai efektif dan strategi koalisi.
Karena itu, kewaspadaan partai parlemen bukan hanya soal kursi.
Ia juga soal bagaimana sistem mendorong partai untuk merawat basis, memperluas dukungan, dan menjelaskan identitas politiknya.
-000-
Kerangka Riset: Coattail Effect, Party Institutionalization, dan Ambang Batas
Untuk memahami isu ini secara lebih konseptual, ada beberapa gagasan yang relevan dalam studi politik.
Pertama, coattail effect, yakni efek ekor jas.
Figur populer dapat menarik suara bagi partai atau kandidat yang menempel pada popularitasnya.
Safari politik, dalam pembacaan Lili, dapat berfungsi sebagai mekanisme memperpanjang efek tersebut.
Kedua, pelembagaan partai atau party institutionalization.
Partai yang terlembaga kuat biasanya tidak mudah kehilangan pemilih hanya karena satu figur bergerak.
Jika partai mudah tergerus, itu memberi sinyal bahwa ikatan pemilih dengan partai mungkin belum kokoh.
Ketiga, ambang batas parlemen.
Dalam literatur sistem pemilu, ambang batas sering dipahami sebagai alat menyederhanakan sistem kepartaian.
Namun ia juga dapat menciptakan insentif keras untuk mengonsolidasikan dukungan dan menghindari fragmentasi suara.
Dalam pernyataan Lili, ambang batas menjadi latar yang membuat partai parlemen semakin defensif.
Karena satu pergeseran kecil dapat berarti kehilangan kursi, atau bahkan kehilangan eksistensi di parlemen.
-000-
Referensi Luar Negeri: Ketika Mantan Pemimpin Menjadi Kingmaker
Di berbagai negara, mantan pemimpin sering berperan sebagai kingmaker.
Mereka berkeliling, menjaga jaringan, dan memengaruhi arah dukungan, meski tidak lagi memegang jabatan.
Fenomena serupa terlihat ketika figur berpengaruh mendukung partai tertentu untuk memperluas daya tawar politik.
Dalam banyak kasus, partai mapan cenderung waspada karena dukungan figur dapat mengubah keseimbangan internal.
Perbandingan ini berguna sebagai cermin, bukan untuk menyamakan situasi secara mentah.
Setiap negara memiliki sistem pemilu, budaya partai, dan tradisi akuntabilitas yang berbeda.
Namun benang merahnya sama: ketika politik sangat bertumpu pada figur, kompetisi partai menjadi lebih cair.
Dan publik kerap terjebak pada drama dukungan, alih-alih debat program.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, partai-partai parlemen perlu merespons dengan kerja politik yang substantif, bukan sekadar reaksi emosional.
Jika takut basis migrasi, jawabannya adalah memperkuat komunikasi program, kinerja, dan kedekatan yang etis dengan konstituen.
Kedua, PSI dan pihak mana pun yang diuntungkan oleh safari perlu memastikan pesan politik tidak berhenti pada simbol.
Publik berhak mendengar agenda, prioritas, dan ukuran keberhasilan yang dapat diuji.
Ketiga, masyarakat sipil dan media perlu menjaga percakapan tetap jernih.
Fokuskan perhatian pada dampak kebijakan, kualitas kader, dan konsistensi sikap, bukan semata pada magnet figur.
Keempat, penyelenggara pemilu dan pembuat kebijakan perlu terus membuka ruang evaluasi atas desain aturan yang memengaruhi kompetisi.
Pembahasan tentang ambang batas, misalnya, sebaiknya ditempatkan dalam kerangka memperkuat representasi, bukan hanya menyederhanakan peta partai.
Terakhir, pemilih memegang peran paling menentukan.
Loyalitas adalah hak, tetapi evaluasi adalah kewajiban moral dalam demokrasi.
Safari politik boleh memikat, tetapi keputusan di bilik suara semestinya lahir dari pertimbangan yang matang.
-000-
Penutup: Demokrasi yang Dewasa Memerlukan Jarak dan Kejernihan
Pernyataan Lili Romli menempatkan safari Jokowi bersama PSI sebagai peristiwa politik yang patut dicermati, bukan sekadar ditonton.
Ia mengandung peringatan bagi partai parlemen, sekaligus pertanyaan tentang daya tahan dukungan setelah kekuasaan berakhir.
Di balik hiruk pikuk tren, ada pekerjaan sunyi yang seharusnya kita rawat: memperkuat nalar publik.
Sebab demokrasi tidak hanya hidup dari siapa yang paling dikenal.
Demokrasi hidup dari warga yang berani menimbang, meragukan, lalu memutuskan dengan sadar.
“Kebebasan bukanlah hadiah, melainkan tanggung jawab.”