TIPS Dan Panduan Menulis Puisi Esai  (Mini), 10 Prinsip

TIPS Dan Panduan Menulis Puisi Esai (Mini), 10 Prinsip

1. Pilih satu peristiwa dalam negeri (bisa juga luar negeri) yang menggambarkan ketidak adilan, atau pelanggaran hak asasi, atau peristiwa yang mengganggu rasa kemanusiaan kita. Bisa juga itu peristiwa yang terjadi di lingkungan dekat kita.

Menemukan kisah sebenarnya yang dramatis, menggugah emosi, itu sudah 70 persen keberhasilan menulis puisi esai. Mengapa? Karena puisi esai itu adalah true story yang difiksikan dengan menambah fiksi, dan bisa juga mengubah profile tokoh sebenarnya.

Jika true story nya, kisah sebenarnya sudah “WOW,” puisi esainya pun mudah untuk “WOW” pula.

2. Upayakan peristiwa True Story itu sudah menjadi berita di sumber berita yang kredibel agar dipastikan itu bukan berita yang keliru (hoax).

3. Jadikan peristiwa di berita itu sebagai catatan kaki (atau catatan di akhir puisi). Puisi esai dibuat berdasarkan catatan kaki ini. Dalam puisi esai, catatan kaki ini “ibu” dari puisi di atasnya. Catatan kaki itu mewakili true story yang menjadi awal dan bahan utama puisi esai.

4. Minimal ada satu catatan kaki (atau catatan di akhir puisi) Catatan kaki dapat ditambah, jika ada fakta lain yang penting yang perlu dirujuk dalam puisi esai itu.

5. Ciptakanlah drama di atas peristiwa true story itu. Drama yang menyentuh: ada tokoh di sana, ada konflik, ada plot cerita. Drama itu sepenuhnya fiksi untuk membuat kisah semakin menyentuh.

6. Gunakan bahasa komunikatif yang bisa dipahami bahkan oleh anak SMP sekalipun. Tapi gunakan juga kekayaan bahasa puisi seperti metafor, hiperbola, kata simbolis, dan lain- lain. Buat ekspresi dengan bahasa yang puitis.

7. Panjang dan pendek puisi tak ditentukan. Yang penting, drama yang diceritakan dalam puisi esai itu sudah selesai. Namun untuk kali ini ditentukan panjang puisi sekitar 500 kata saja, agar bisa dibaca di panggung dalam waktu lima menit

8. Khusus untuk seri Puisi esai mini ini, puisi dimulai dengan “Alinea Konteks Sosial.” Jelaskan sependek yang bisa, konteks sosial terjadinya peristiwa yang akan dijadikan puisi. Ada info soal tahun, tempat dan isi peristiwa. Alinea ini ada di awal puisi sebagai “pengantar” untuk pembaca memahami konteks sosial kisah yang akan dijadikan puisi esai.

Ketika dibacakan di panggung, ini pula yang membedakan puisi esai dengan puisi biasa. Puisi esai mulai dengan menceritakan konteks sosial lahirnya puisi.

9. Agar hidup, boleh masukkan dialog atau monolog oleh tokoh utama dalam puisi esai itu. Ini pilihan, bagus jika ada.

10. Untuk referensi, lihat puisi esai Denny JA, serial “Mereka Yang Terbuang di Tahun 60-an. Ada 15 seri di Facebook Denny JA World

Di bawah ini contoh beberapa puisi esai (mini) Denny JA

1. Bukit Itu Menangis Menimbun Satu Keluarga

https://www.facebook.com/share/p/14XXFsA23bK/?mibextid=wwXIfr

2.Kampung di Aceh Hilang

https://www.facebook.com/share/p/1Q1qKQea6T/?mibextid=wwXIfr

3.Dua Hari Ia Berjalan Mencari Istri dan Anak

https://www.facebook.com/share/p/1JUhxaNHvt/?mibextid=wwXIfr

4.Kuburan Mereka Berserakan di Banyak Negara

https://www.facebook.com/share/p/D3JU3QGKchdLJsdg/?mibextid=WC7FNe

5.Dilema di Tanah Asing

https://www.facebook.com/share/p/wjuUsmGzqmB86v2U/?mibextid=WC7FNe

6.ILMU MENJADI TANAH PENGGANTI

https://www.facebook.com/share/p/hHnFBs6gJpVjK85d/?mibextid=WC7FNe

7.PEREMPUAN ITU BELAJAR DI BAWAH SINAR KUNANG- KUNANG

https://www.facebook.com/share/p/GGxiwKhGoMwxSwFv/?mibextid=WC7FNe

8.TAK KUTEMUKAN SURGA DI SANA

https://www.facebook.com/share/p/sSM5B9oxyiEgXPjj/?mibextid=WC7FNe