MEREKAM LUKA SOSIAL DAN KESAKSIAN YANG BERPIHAK

MEREKAM LUKA SOSIAL DAN KESAKSIAN YANG BERPIHAK

- Pengantar Buku Kumpulan Opini Soal Puisi Esai, 2026

Oleh Denny JA

Suatu malam, saya membaca sebuah angka.

Seribu lebih korban banjir.
Ratusan ribu mengungsi.
Puluhan desa hilang dari peta.

Angka-angka itu berdiri rapi. Tegas. Objektif. Namun anehnya, tak ada yang bergerak di dalam dada saya.

Sampai kemudian saya membaca satu kisah.

Seorang ayah berjalan kaki membawa jenazah anaknya, karena ia tak mampu membeli sebidang tanah di kota. Langkahnya pelan. Tangannya gemetar. Malam itu, saya gelisah.

Di situlah saya sadar, manusia tidak pernah benar-benar tersentuh oleh angka. Ia tersentuh ketika angka menjelma menjadi cerita.

Dan di antara angka dan air mata,
di antara data dan duka,
lahirlah satu bentuk sastra yang mencoba menjembatani keduanya, puisi esai.

-909-

Buku ini adalah kumpulan tulisan pemenang lomba esai dalam Festival Puisi Esai Ketiga, 2025, dengan tema Mengapa Puisi Esai Tepat Menyuarakan Luka Sosial.

Ia bukan sekadar buku sastra.
Ia adalah arsip kegelisahan zaman.

Ditulis oleh puluhan penulis dari beragam latar, akademisi, mahasiswa, aktivis, hingga penulis muda, buku ini mempertemukan suara yang berbeda dalam satu kegelisahan yang sama, luka sosial yang terlalu sering dilihat, tetapi jarang benar-benar didengar.

Editor buku ini sekaligus koordinator lomba adalah Mila Muzakkar, sementara para pemenang ditentukan oleh tim juri.

Mengapa buku ini ditulis?

Karena dunia hari ini mengalami paradoks yang sunyi. Kita tahu lebih banyak, tetapi merasa lebih sedikit. Data melimpah, empati mengering.

Buku ini mencoba menjawab satu pertanyaan mendasar. Mengapa puisi esai, disamping karya jurnalistik, laporan ilmiah, puisi murni, menjadi medium yang mampu menyuarakan luka sosial dengan lebih utuh?

Isu yang diangkat membentang luas.

Dari keluarga yang tercerabut oleh kemiskinan, dari tanah yang dirampas atas nama pembangunan, dari tubuh perempuan yang dipatahkan oleh kekerasan, dari alam yang dilukai oleh kerakusan, hingga trauma sejarah yang tak pernah benar-benar selesai. Bahkan luka baru muncul dari dunia digital, ketika teknologi melampaui empati.

Dari yang sangat personal hingga yang sangat struktural, buku ini bergerak dari tubuh manusia yang terluka menuju sistem yang melukai.

-000-

Tiga tulisan dalam buku ini dapat mewakili spiritnya.

1. “Puisi Esai sebagai Bahasa Luka Sosial,” karya Hening Nugroho

Tulisan ini menjadi fondasi filosofis buku ini. Ia berangkat dari satu gagasan besar, luka sosial tidak bisa dipahami hanya dengan data.

Luka hidup dalam tubuh, dalam ingatan, dalam emosi kolektif. Ia memberi contoh yang sederhana namun menghantam. Seorang perempuan tetap menyimpan kunci rumah yang sudah digusur, bukan karena rumah itu masih ada, tetapi karena ingatan itu belum pergi.

Di titik ini, bahasa administratif menemukan batasnya. Ia mampu mencatat, tetapi gagal merasakan.

Di sinilah puisi esai hadir sebagai bahasa afektif. Ia tidak menjelaskan realitas. Ia menghadirkan pengalaman realitas.

Angka penggusuran tidak lagi sekadar statistik. Ia menjadi cerita seorang anak yang kehilangan seragam sekolahnya di puing rumah.

Ini bukan hanya soal estetika. Ini soal etika.

-000-

2. “Dialektika Fakta dan Emosi,” karya Dr. Tamrin

Tulisan ini menjadi jantung intelektual buku ini. Ia mengangkat satu konsep penting, puisi esai sebagai audit moral.

Penulis melihat dunia modern sebagai masyarakat tontonan. Tragedi kemanusiaan berubah menjadi konten, sementara empati menipis.

Puisi esai hadir sebagai perlawanan. Ia menyatukan dua hal yang selama ini terpisah.

Fakta menjaga kebenaran.
Emosi menghidupkan kemanusiaan.

Tanpa fakta, puisi mudah jatuh menjadi sentimental.
Tanpa emosi, fakta menjadi dingin.

Contoh paling kuat hadir dalam analisis puisi “Sapu Tangan Fang Yin”. Tragedi Mei 1998 tidak lagi berdiri sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai pengalaman tubuh seorang perempuan.

Dengan catatan kaki, penderitaan itu diverifikasi. Dengan puisi, penderitaan itu dirasakan.

Di sanalah kebenaran objektif dan kedalaman subjektif bertemu.

-000-

3. “Ketika Statistik Tak Cukup Menangis,” oleh Dicky Octaviano

Tulisan ini paling menyentuh secara psikologis. Ia mengangkat konsep psychic numbing, semakin besar angka penderitaan, semakin kecil empati kita.

152 juta anak pekerja tidak membuat kita menangis. Satu anak bernama Rokia membuat kita tergerak.

Mengapa?

Karena manusia tidak merespons angka. Ia merespons cerita.

Puisi esai menjawab kebuntuan ini. Ia mengubah statistik menjadi wajah. Ia mengubah angka menjadi manusia.

Di titik ini, puisi esai tidak lagi sekadar genre sastra. Ia menjadi cara untuk menghidupkan kembali empati yang perlahan mati.

-000-

Dua buku berikut memperkaya pemahaman kita.

Pertama, Atas Nama Cinta, yang saya tulis pada 2012.

Buku ini dianggap sebagai tonggak lahirnya puisi esai di Indonesia. Di dalamnya, saya mengangkat isu diskriminasi, kekerasan etnis, dan konflik agama.

Setiap puisi berakar pada fakta nyata dan dilengkapi catatan kaki. Kisah Fang Yin, korban kekerasan 1998, bukan sekadar imajinasi. Ia diverifikasi oleh laporan resmi.

Buku ini menunjukkan bahwa sastra tidak harus netral. Ia bisa berpihak tanpa kehilangan keindahan.

Semangat itulah yang menjadi fondasi bagi tulisan-tulisan dalam buku ini.

-000-

Kedua, The Cultural Politics of Emotion karya Sara Ahmed.

Buku ini menjelaskan bahwa emosi bukan sekadar pengalaman pribadi. Ia adalah fenomena sosial dan politik.

Rasa takut, marah, dan sedih dibentuk oleh struktur sosial. Dalam konteks luka sosial, penderitaan bukan hanya peristiwa individual, tetapi hasil dari sistem yang bekerja.

Puisi esai berada di wilayah ini. Ia menggerakkan emosi, tetapi emosi yang terhubung dengan struktur. Ia membuat pembaca tidak hanya merasa, tetapi juga memahami mengapa rasa itu lahir.

-000-

Tiga hal yang membuat buku ini istimewa

Pertama, ia menyatukan fakta dan rasa.

Selama ini kita hidup di dua dunia yang terpisah. Dunia data dan dunia emosi. Buku ini menjembatani keduanya. Ia membuktikan bahwa kebenaran tidak cukup hanya akurat. Ia harus terasa.

Kedua, ia memberi suara pada yang tak terdengar.

Banyak luka sosial tidak pernah masuk sejarah. Buku ini menjadi arsip tandingan. Ia menyimpan suara korban, ingatan yang dihapus, dan pengalaman yang diabaikan.

Ketiga, ia mengubah pembaca dari penonton menjadi saksi.

Buku ini tidak ingin kita sekadar tahu. Ia ingin kita terganggu. Ia ingin kita tidak nyaman. Dari ketidaknyamanan itulah kesadaran lahir.

-000-

Namun, puisi esai memikul beban etis berat; ia tidak boleh sekadar mengeksploitasi duka demi estetika. Penulis harus memastikan bahwa narasi yang dibangun adalah bentuk penghormatan, bukan sekadar komodifikasi atas penderitaan.

Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah pengingat.

Bahwa di balik setiap angka, ada manusia. Di balik setiap data, ada duka. Di balik setiap kebijakan, ada kehidupan.

Tapi kesaksian yang sejati tak berhenti di halaman buku. Ia menunggu diteruskan dalam percakapan, ruang kelas, kebijakan, juga pilihan kecil sehari-hari, ketika kita memutuskan berpihak pada yang selama ini dibisukan.

Kehadiran genre puisi esai ini akhirnya melampaui estetika; ia adalah harapan etis bahwa setiap nyawa yang hilang dan suara yang dibungkam akan selalu menemukan rumah yang aman dalam ingatan kolektif kita.

Kita hidup di zaman yang cepat lupa. Dan buku ini adalah upaya kecil untuk menolak lupa.

Jika dunia terus menghitung manusia sebagai angka, maka puisi esai adalah cara kita mengembalikan mereka menjadi jiwa.***

Singapura, 25 April 2026

REFERENSI

1. Atas Nama Cinta – Denny JA, 2012
2. The Cultural Politics of Emotion – Sara Ahmed, 2004