PIKIRAN TERBUKA VS POLISI SASTRA SOAL NOBEL

PIKIRAN TERBUKA VS POLISI SASTRA SOAL NOBEL

Seorang teman mengirim esai Marwanto yang dimuat di koran lokal. Terasa ini esai yang ditulis dengan pikiran terbuka. Tahta sastra itu dimiliki oleh setiap penulis. Mengapa satu penulis terganggu dengan penulis lain yang dicalonkan nobel sastra?

Pandangan Marwanto sungguh berbeda dengan sebagian penulis lain yang merasa menjadi “polisi sastra.” Seolah mereka mendapat wahyu Tuhan menentukan yang mana sastrawan palsu dan mana yang asli?😀

Dari isi kepalanya yang sempit itu, sang “politisi sastra” ini lalu merasa berhak mengganyang, mengenyahkan, dan sebagainya, mereka yang dianggap tak sejalan.

Jenis karakter ini jika di agama, ia akan menjadi kaum fanatik yang bisa membakar rumah ibadah orang yang memiliki keyakinan yang berbeda😀. Sumber cara berpikirnya sama: sama sama merasa paling berhak atas kebenaran😀

Saya tak mengenal pribadi Marwanto yang menulis esai di bawah ini. Tak pernah kontak pula. Namun saya merasakan pikirannya yang terbuka, yang asyik dan pas di zaman yang serba beragam🙏