PEREMPUAN DAN WANITA DALAM POLITIK KATA DAN FEMINISME DALAM SENI RUPA

Denny JA

Ada yang hidup dalam sebuah kata. Huruf dan bunyi kata itu tak berubah. Tapi citra dari kata itu berubah, dinamis, bersama berubahnya politik masyarakat.

Lihatlah kata wanita dan perempuan.

Banyak aktivis perempuan saat ini memilih menggunakan kata perempuan. Dan mereka bersikap negatif dengan kata wanita.

Tapi kuatkah alasan itu? Kita paparkan dulu alasannya. Dan kita munculkan pula sanggahannya.

-000-

Elemen gender dalam gerakan emansipasi saat ini lebih senang menggunakan kata perempuan.

Dua alasan yang acapkali dikemukakan. Pertama arti dari asal kata itu. Perempuan secara etimologi terkait dengan empu. Kata ini berarti yang dipertuan, dihormati, berkuasa, berdaya.

Sementara kata wanita berasal dari sansekerta: vanita, yang diinginkan. Kata ini memberikan citra wanita sebagai obyek yang keberadaannya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kaum pria.

Kata wanita juga dikaitkan dengan “wani ditata.” Itu artinya kaum yang hanya ditata, diatur- atur saja oleh kaum pria. (1)

Alasan kedua merujuk pada contoh pemakaian kata dalam politik perjuangan kaum perempuan/wanita.

Konggres perempuan pertama Indonesia di tahun 1928. Konggres ini dihadiri oleh 30 organisasi, dari Jawa dan Sumatra.

Inilah konggres pertama yang mendiskusikan dan memperjuangkan hak perempuan. Konggres itu memakai kata perempuan, bukan wanita.

Sebaliknya politik Orde Baru mengembangkan organisasi Dharma Wanita di tahun 1999. Ini organisasi istri para pegawai negeri. Posisi wanita dalam organisasi ini ditentukan oleh posisi suaminya.

Terasa kontras dua lembaga di atas. Perjuangan emansipasi menggunakan kata perempuan. Tapi organisasi ikut suami menggunakan kata wanita.

Maka para feminis masa kini banyak yang memilih kata perempuan, dan bersifat negatif pada kata wanita.

-000-

Tentu saja selalu ada perbedaan pandangan dalam politik kata. Pandangan di atas dapat disanggah.

Tak hanya kata perempuan dan wanita, banyak kata lain juga mengalami perubahan citra. Dalam ilmu bahasa dikenal istilah ameliorasi dan peyorasi. (2)

Ameliorasi untuk proses perubahan citra sebuah kata menjadi lebih positif, lebih halus, lebih santun.

Sementara peyorasi sebaliknya. Ia perubahan citra kata menjadi lebih negatif, lebih buruk, lebih kasar.

Baik kata perempuan dan kata wanita, keduanya mengalami proses ameliorasi dan peyorasi.

Salah satu gerakan perjuangan kaum perempuan yang sangat progresif, dari kalangan kiri, menyebut nama mereka Gerwani. Itu singkatan dari Gerakan Wanita Indonesia.

Organisasi ini didirikan tahun 1950. Ia termasuk organisasi yang masif dengan anggota 1,5 juta orang. Ia adalah organisasi perempuan terbesar saat itu.

Organisasi ini tak hanya berjuang tapi juga berpolitik karena mengkaitkan diri ke PKI. Mereka tidak menyebut organisasi mereka perempuan, tapi wanita.

Itu catatan sejarah yang menunjukkan kata wanita juga digunakan untuk perjuangan kaum perempuan. Kata wanita mengalami ameliorasi, makna katanya lebih positif karena politik saat itu.

Bung Karno yang dikenal sangat mendorong wanita untuk berperan di ruang publik, juga menggunakan kata wanita. Bung Karno mengubah konggres perempuan indonesia menjadi Kowani (Konggres Wanita Indonesia), di tahun 1946.

Pasca-kemerdekaan, berbagai organisasi perempuan bermunculan. Pada Juli 1950, Gerakan Wanita Sedar (Gerwis). Persatuan Wanita Sedar, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo). Semua organisasi ini menggunakan kata wanita, bukan perempuan.

Tahun 1975 sampai sekarang juga muncul organisasi perempuan di dunia ekonomi: IWAPI. Ia singkatan dari Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia.

Perjuangan kaum perempuan tak hanya di bidang politik, tapi juga ekonomi. Dan mereka menggunakan kata wanita untuk organisasinya, bukan perempuan.

Bagi para pengusaha wanita, kata wanita cukup terhormat. Mereka juga manusia mandiri, dan bagi mereka tak ada yang salah dengan kata wanita.

Tak hanya mengalami ameliorasi. Kata wanita dan kata perempuan juga mengalami peyorasi.

Tak hanya kata wanita yang mengalami peyorasi, citra negatif dengan munculnya kata “wanita malam.”

Tapi kata perempuan juga mengalami peyorasi dengan munculnya kata “perempuan jalang.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hari hari ini tak membedakan perempuan dan wanita dari sisi citra baik dan buruknya.

KBBI hanya mendefinisikan perbedaan wanita dan perempuan dengan periode umur. Wanita itu untuk perempuan yang sudah dewasa.

-000/

Tapi di luar kamus, politik kata perempuan versus wanita terus tumbuh.

Setelah runtuhnya Orde Baru, kembali kongres wanita diubah menjadi kongres perempuan. Komnas memilih kata perempuan, Komnas Perempuan, bukan Komnas wanita. Menteri pemberdayaan memilih kata perempuan, Menteri Pemberdayan Perempuan, bukan Menteri Pemberdayaan Wanita.

Kata perempuan lebih dipilih. Tapi jika pro pada emansipasi perempuan, apakah kini kita terlarang menggunakan kata wanita?

Tidak juga. Di samping kamus resmi bahasa Indonesia tidak membedakan citra politik kata wanita dan kata perempuan, juga ada banyak feminis yang masih nyaman dengan kata wanita.

Faiza Mardzoeki,seorang aktivis perempuan di bidang seni, adalah salah satunya. Ia kini sengaja menggunakan kata wanita untuk organisasinya: Wanita Baca. Bukan Perempuan Baca.

Apa alasannya? Menurut Faiza, saya kutip langsung:

“ Wanita? Kenapa tidak? Wanita dan perempuan sama saja, yaitu agen yang aktif di masyarakat.”

“(Kita harus) reclaim kembali makna, baik kata wanita atau perempuan. Wanita baca sendiri artinya yang berani membaca. Wanita atau perempuan itu sumber pengetahuan dan kehidupan,” kata pendiri Institut Ungu itu. (3)

-000-

Saya juga seorang feminis, dalam arti ikut mendorong emansipasi wanita hingga ke gelombang ke-4.

Sengaja saya membahas politik kata perempuan dan wanita di atas karena saya ingin ikut menghidupkan citra kata. Tak hanya kata perempuan. Kata wanita juga terhormat, dan bisa digunakan untuk perjuangan emansipasi.

Wanita tak lagi harus diartikan menjadi wani ditata, tapi dihidupkan menjadi wani menata. Kata itu sesuatu yang hidup. Sesuatu yang dinamis. Sesuatu yang bisa diklaim.

Perubahan awalan di (ditata) menjadi me (menata) itu juga sudah sesuai dengan perubahan penggunaannya dalam sejarah, seperti dalam dunia politik digunakan oleh Gerakan Wanita Sedar. Dalam dunia usaha digunakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia. Dan Dalam dunia seni budaya digunakan oleh Wanita Baca.

Dalam video kali ini, saya menggunakan kata perempuan dan wanita dengan pengertian yang sama.

Simak Orasi Denny JA ke- 138: Emansipasi Wanita Dalam Seni Rupa 👇

https://youtu.be/3vNfwcAYV2E

👆

CATATAN

1. Akar kata perempuan dan wanita

http://paradigma.ui.ac.id/index.php/paradigma/article/download/227/pdf

2. Terjadi perubahan citra kata melalui ameliorasi dan peyorasi.

https://dosenbahasa.com/contoh-kalimat-ameliorasi-peyorasi-dan-sinestesia/amp

3. Kata Wanita harus direbut kembali dan dibuat memiliki citra yang sama dengan perempuan

http://paradigma.ui.ac.id/index.php/paradigma/article/download/227/pdf