- Kumpulan Esai In Memoriam
Hingga hari ini, 10 Maret 2022, tertera angka itu. Yang wafat karena Covid-19 di Indonesia, menurut Worldometer sebanyak 155, 597 manusia.
Lebih dari 155 ribu nyawa sudah wafat melalui jalan tertular pandemik. Tapi kematian bukan hanya soal angka statistik. Ia bukan hanya deret hitung, soal matematika.
Yang wafat itu memiliki anak, atau ayah. Ia memiliki ibu, atau suami, istri, kekasih. Ia juga memiliki sahabat. Ia juga memiliki riwayat.
Di antara yang wafat itu, terdapat keluarga, tetangga, sahabat, para tokoh, dan handai taulan kita semua.
Tapi apa arti 155 ribu nyawa itu? Saya pun teringat puisi Chairil Anwar: Karawang Bekasi.
βTapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.β
Itu hanya cuplikan puisinya. Chairil menuliskan puisi itu di tahun 1942, di era penjajahan Belanda. Ia tersentuh dengan matinya 4-5000 nyawa di Karawang Bekasi.
Kini, karena Covid-19, telah mati 155 ribu nyawa. Yang mati lebih banyak 35 kali lipat dibandingkan di Karawang Bekasi.
Jika yang mati di Karawang- Bekasi mengilhami lahirnya puisi menyentuh dan kuat dari Chairil Anwar, bagaimana dengan matinya 155 ribu manusia di Indonesia karena Covid-19?
Banyak sahabat aktivis yang wafat karena Covid-19. Juga beberapa tokoh nasional dan intelektual juga wafat akibat Covid-19.
Saya sempat menuliskan esai In Memoriam mengenang wafatnya mereka. Namun banyak juga yang wafat bukan karena Covid-19 yang menggerakan saya menulis In Memoriam.
Buku ini kumpulan esai In Memoriam yang saya tulis. Terima kasih kepada penerbit CBI yang mengumpulkan dan menjadikannya sebuah buku.
Buku KETIKA GAGASAN TETAP HIDUP: Kumpulan Esai In Memoriam Para Sastrawan, Tokoh, Intelektual dan Aktivis (2022), dapat dibaca dan diklik di sini:π
https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/1901654966689263/
π

