Riset: Algoritma Media Sosial Ikut Menentukan Cepat-Lambatnya Isu Menjadi Perhatian Publik

Riset: Algoritma Media Sosial Ikut Menentukan Cepat-Lambatnya Isu Menjadi Perhatian Publik

Algoritma di media sosial dinilai turut menentukan seberapa cepat sebuah isu berkembang dan memperoleh perhatian publik. Hal ini disampaikan Rustika yang menekankan bahwa komunikasi kebijakan saat ini perlu memahami cara kerja perhatian publik dalam “marketplace of attention” yang dipengaruhi manusia sekaligus algoritma.

Dalam penelitian doktoralnya berjudul “Algorithmic Intermedia Agenda-Setting dalam Isu Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN): Analisis Big Data Media Daring, Twitter/X, TikTok, serta Mekanisme Agenda-Building Pemerintah (2020–2024)”, Rustika menyebut algoritma dapat memengaruhi sejauh mana pesan memperoleh resonansi di ruang publik. Menurutnya, visibilitas isu tidak lagi hanya ditentukan oleh satu aktor, melainkan terbentuk dari interaksi manusia dan teknologi, termasuk sistem rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur For You Page.

Ia juga menyampaikan salah satu temuan utama penelitiannya: keberhasilan komunikasi digital tidak lagi ditentukan oleh banyaknya konten yang dipublikasikan. Produksi konten dalam jumlah besar belum tentu menghasilkan perhatian publik. Sebaliknya, pesan yang dipublikasikan lebih sedikit dapat memperoleh resonansi lebih tinggi jika hadir pada momentum yang tepat, dikemas sesuai karakter platform, dan diperkuat oleh mekanisme distribusi algoritmik.

Penelitian tersebut menunjukkan perhatian publik terhadap isu pemerintahan seperti IKN bersifat episodik. Intensitas percakapan meningkat pada momen tertentu, seperti pengesahan Undang-Undang IKN, dinamika politik menjelang Pemilu, perkembangan pembangunan fisik, hingga penyelenggaraan peringatan Hari Kemerdekaan di kawasan IKN. Temuan ini menegaskan agenda publik tidak bergerak secara linear, melainkan mengikuti momentum politik, kebijakan, maupun peristiwa simbolik yang kemudian diperkuat oleh distribusi informasi di berbagai platform digital.

Rustika juga memaparkan perbedaan peran tiap platform dalam membentuk persepsi publik mengenai IKN. Media daring disebut berperan memperkuat legitimasi melalui informasi kebijakan dan perkembangan pembangunan. Twitter/X menjadi ruang diskusi, kritik, serta kontestasi berbagai sudut pandang. Sementara TikTok lebih banyak membangun pengalaman visual dan emosional yang membuat isu kebijakan lebih mudah dipahami sekaligus dibagikan.

Melalui temuan-temuannya, Rustika memperkenalkan model teoretis bernama Algorithmic Intermedia Agenda-Setting (AIAS). Model ini memperluas teori intermedia agenda-setting dengan menempatkan algoritma sebagai mediator penting dalam pembentukan agenda publik di era digital. Dalam kerangka AIAS, agenda publik dipahami sebagai hasil interaksi antara pemerintah, media massa, publik, kreator konten, dan sistem algoritma yang menentukan distribusi serta visibilitas informasi.

Rustika, yang juga Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) dan baru meraih gelar Doktor dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, menambahkan bahwa sebuah isu berpeluang lebih besar menjadi agenda publik ketika lima unsur hadir bersamaan, yakni pesan, momentum, format, emosi, dan logika platform.