Wacana penanganan siswa yang dianggap nakal dengan cara mengirim mereka ke barak militer kembali memunculkan perdebatan. Dalam diskursus tersebut, rehabilitasi sosial dinilai lebih pantas dibanding pendekatan disipliner berbasis militer.
Gagasan rehabilitasi sosial menempatkan perilaku bermasalah sebagai persoalan yang perlu ditangani melalui pembinaan dan pendampingan, bukan semata-mata pemberian hukuman. Pendekatan ini umumnya menekankan perubahan perilaku melalui proses edukasi, dukungan lingkungan, serta pemulihan relasi sosial agar siswa dapat kembali berfungsi secara sehat di sekolah maupun di masyarakat.
Sementara itu, opsi mengirim siswa ke barak militer dipandang sebagai langkah yang cenderung menitikberatkan pada penegakan disiplin. Perbedaan sudut pandang inilah yang menjadi inti perdebatan: apakah persoalan kenakalan siswa lebih tepat diselesaikan melalui pemulihan dan pembinaan sosial, atau melalui metode yang identik dengan pelatihan keras dan kepatuhan.
Dengan mengemuka kembali isu ini, perhatian publik tertuju pada kebutuhan penanganan yang tidak hanya merespons perilaku di permukaan, tetapi juga mempertimbangkan aspek pembinaan jangka panjang bagi siswa.