Ratusan Siswa SMA dari 28 Sekolah Ajukan Solusi untuk Isu Sosial Lewat HSSIC

Ratusan Siswa SMA dari 28 Sekolah Ajukan Solusi untuk Isu Sosial Lewat HSSIC

Kompetisi HSSIC yang diselenggarakan Fempower Project bekerja sama dengan ParkCity International School Hanoi (ISPH) dan disponsori Asosiasi Sosiologi Vietnam menjadi wadah bagi siswa sekolah menengah atas untuk meneliti isu sosial, mengusulkan solusi, serta menguji model implementasi sejak masih bersekolah.

Gagasan pendirian HSSIC berangkat dari pengalaman Do Ngoc Linh, siswi SMA di ISPH sekaligus pendiri Fempower Project yang berfokus pada promosi kesetaraan gender. Selama hampir dua tahun menjalankan kegiatan di berbagai lokasi, Linh dan rekan-rekannya berkesempatan bekerja bersama perempuan dan anak perempuan di daerah pegunungan.

Dari pengalaman tersebut, Linh menilai persoalan sosial kerap saling terkait dengan banyak faktor, sehingga sulit diselesaikan oleh individu atau satu proyek saja. Ia kemudian memilih membangun sebuah platform agar lebih banyak siswa dapat mengembangkan proyek mereka secara bersama-sama.

Untuk menyelenggarakan kompetisi, Linh bersama hampir 10 siswa mempersiapkan HSSIC selama hampir lima bulan. Mereka menangani berbagai aspek, mulai dari komunikasi, menjalin relasi dengan pembicara dan sponsor, mengatur pendampingan, hingga menjalankan babak final.

Pada musim 2026, kompetisi ini berkembang signifikan. Panitia menerima 40 proyek dari 238 siswa yang berasal dari 28 sekolah menengah di delapan provinsi dan kota. Tema yang diangkat beragam, mencakup pendidikan, kesehatan mental, pelestarian budaya, lingkungan, pengembangan masyarakat, hingga kesetaraan gender.

Sejumlah besar proyek berangkat dari isu yang dekat dengan kehidupan siswa. Beberapa tim mengangkat pendidikan keuangan pribadi dan gagasan membangun ruang bersama untuk kesehatan mental. Banyak pula yang menyoroti pelestarian budaya tradisional, pendidikan seks, serta pembangunan berkelanjutan.

Setelah seleksi, 15 proyek unggulan melaju ke fase pendampingan. Selama hampir 40 jam pelatihan dan mentoring, tiap tim mendapat bimbingan dari para ahli untuk menyempurnakan model, menilai kelayakan, serta mempersiapkan presentasi di hadapan panel juri.

Proyek Equimed meraih juara pertama dengan usulan platform untuk membantu mengurangi bias gender dalam jurnalisme dan media. Platform tersebut dirancang melalui mekanisme umpan balik anonim, forum diskusi, serta perpustakaan sumber belajar bagi para profesional media.

Juara kedua diraih Brocade, proyek yang berfokus pada pelestarian tenun brokat tradisional masyarakat Tay, sekaligus mengembangkan mata pencaharian dan mendukung kesempatan pendidikan bagi siswa di daerah pegunungan. Sementara itu, Rooted Frames menempati posisi ketiga melalui gagasan pelestarian warisan budaya lewat fotografi dan penceritaan visual, dengan target membangun sumber daya tentang bangunan bersejarah yang mulai menghilang, kerajinan tradisional, serta nilai-nilai budaya.

Selain tiga penghargaan utama, sejumlah proyek lain mendapat pengakuan atas pendekatannya. Still Beautiful, karya siswa kelas 9 Nguyen Que Chi, memperoleh penghargaan Ide Menjanjikan melalui inisiatif mengurangi prasangka terhadap citra tubuh lewat seni kreatif dan bercerita.

Proyek lain seperti Openly Us, Mù zùo, The Reality - The Connection, Finam, MẦM, Hypnara, Safe Zone, dan Hearts & Crumbs turut menunjukkan ketertarikan kaum muda pada persoalan praktis di komunitas mereka.

Penyelenggara menyebut, di balik setiap proyek terdapat proses survei dan persiapan selama berbulan-bulan. Tim MẦM, misalnya, mendatangi langsung Bản Liền (Lao Cai) untuk mempelajari kondisi pembelajaran sebelum menyusun model pendidikan STEM bagi anak-anak di daerah pegunungan.

Tim Rooted Frames, dengan kamera lama dan dana terbatas, tetap mendokumentasikan situs-situs warisan budaya yang mulai rusak dengan harapan dapat menjaga ingatan budaya bagi generasi mendatang. Sementara itu, tim Hypnara tetap mengikuti babak final secara daring setelah salah satu anggotanya mengalami kecelakaan sesaat sebelum kompetisi.

Profesor Nguyen Huu Minh, Presiden Asosiasi Sosiologi Vietnam, menilai banyak proyek menunjukkan bahwa para siswa telah belajar memulai dari kebutuhan nyata masyarakat dan meneliti konteks sebelum mengusulkan solusi. Ia juga menyoroti bahwa peserta tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi turut proaktif mencari cara untuk menyelesaikannya.

Setelah kompetisi, beberapa inisiatif direncanakan akan dihubungkan dengan jaringan mentor, organisasi sosial, serta mitra terkait untuk mengeksplorasi peluang implementasi secara praktis.