Berbagai informasi keliru dan konten hoaks kembali beredar di media sosial pada awal tahun, mengikuti tren perbincangan warganet. Dalam penelusuran cek fakta sepekan, sejumlah klaim yang ramai dibagikan mencakup isu kesehatan, politik luar negeri, peringatan bencana, hingga program bantuan pemerintah.
Salah satu narasi yang beredar mengeklaim gejala varian virus Influenza A (H3N2) subklade K yang dijuluki “superflu” lebih parah dari Covid-19. Namun, klaim tersebut tidak didukung data ilmiah. Kementerian Kesehatan menyatakan belum ada data yang menunjukkan tingkat keparahan atau fatalitas superflu lebih tinggi dibandingkan Covid-19. Ketua IDI Jawa Barat dr Mohammad Lutfhi mengimbau masyarakat agar tidak khawatir berlebihan. Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, juga menyebut tingkat kematian akibat subklade K masih jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19 pada awal pandemi.
Di ranah politik luar negeri, beredar foto yang diklaim menampilkan Cilia Flores, istri Presiden Venezuela Nicolas Maduro, di ruang sidang Pengadilan Amerika Serikat. Foto itu memperlihatkan Cilia mengenakan jas hitam dan kemeja marun, dengan mata kiri tampak memar serta perban di dahi. Hasil pemeriksaan menunjukkan gambar tersebut merupakan konten manipulatif berbasis artificial intelligence (AI). Penampilan Cilia saat sidang dilaporkan berbeda: ia memakai seragam penjara biru dan oranye, menggunakan headphone untuk mendengarkan terjemahan bahasa Spanyol, rambut pirang diikat ke belakang membentuk sanggul, serta terdapat perban di sekitar mata dan dahi akibat luka saat proses penangkapan.
Konten serupa juga ditemukan dalam bentuk video yang menampilkan sejumlah orang memenuhi jalanan sambil mengibarkan bendera Israel. Video itu diklaim sebagai aksi pemuda di Surabaya yang mendukung Israel. Berdasarkan penelusuran, video tersebut merupakan video generatif AI. Hingga kini, tidak ditemukan informasi valid mengenai adanya aksi dukung Israel di Surabaya seperti yang disebut dalam klaim.
Selain itu, muncul pula informasi yang menyebut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan ancaman garis badai atau fenomena squall line di wilayah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) pada malam pergantian tahun, 31 Desember 2025. Setelah ditelusuri, informasi tersebut dinyatakan tidak benar. Kepala Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerjasama BMKG RR Rima Eryani mengatakan, pesan yang beredar bukan berasal dari BMKG. Berdasarkan data pemantauan cuaca, ia memastikan tidak ada indikasi pembentukan awan badai yang bergerak ke arah Pulau Jawa sebagaimana narasi yang beredar.
Hoaks lain berkaitan dengan program Bantuan Subsidi Upah (BSU). Di media sosial, beredar tautan pendaftaran BSU tahap awal 2026 yang meminta pengguna mengecek nama dan mendaftar jika belum terdata. Kepala Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan Faried Abdurrahman Nur Yuliono mengimbau masyarakat mewaspadai informasi palsu yang mengatasnamakan BSU. Ia menegaskan bahwa pada Januari 2026 belum dilakukan penyaluran BSU. “Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ada informasi apa pun terkait BSU tahun 2026,” ujar Faried. Ia menambahkan, keputusan atau kebijakan baru terkait BSU akan disampaikan secara terbuka melalui kanal resmi Kemnaker.
Rangkuman ini menunjukkan pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, terutama saat isu tertentu tengah ramai diperbincangkan dan rawan dimanfaatkan untuk manipulasi maupun penipuan.

