Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 memunculkan kembali pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya diharapkan warga Jakarta dari seorang gubernur, dan sosok seperti apa yang paling tepat memimpin ibu kota selama lima tahun ke depan.
Dalam kajian kepemimpinan, peran seorang gubernur selalu melekat dengan harapan, baik yang datang dari warga maupun dari pemimpin itu sendiri. Literatur kepemimpinan umumnya memuat dua pandangan yang berbeda namun kerap saling melengkapi. Pertama, pemimpin dipandang sebagai cerminan keadaan masyarakat. Kedua, pemimpin dilihat sebagai cerminan kepribadiannya. Dalam psikologi politik, kedua pandangan tersebut digunakan secara terpadu untuk menjelaskan perilaku aktor politik.
Rujukan penting dalam pendekatan ini antara lain pemikiran Fred Greenstein dalam buku Personality and Politics (1969). Greenstein mengemukakan dua proposisi: tindakan seseorang merupakan hasil dari karakteristik pribadi dan lingkungan tempat ia berada; serta semakin kabur dan tidak terstrukturnya lingkungan, semakin besar pengaruh karakteristik pribadi pemimpin terhadap tindakannya.
Dua proposisi itu dinilai relevan untuk memahami perilaku aktor politik di Indonesia, termasuk pada tingkat provinsi. Indonesia digambarkan masih belum memiliki pola dan norma politik yang mapan, sementara praktik ketatanegaraan masih sangat bergantung pada para pemimpin eksekutif tertinggi. Dalam konteks tersebut, dinamika pemerintahan DKI Jakarta dipandang sulit dilepaskan dari karakteristik pribadi gubernurnya. Karena itu, kajian mengenai kepribadian para gubernur atau calon gubernur dianggap diperlukan untuk memahami politik dan pemerintahan di Jakarta.
Berangkat dari kerangka tersebut, Kompas bersama tim pengajar dan peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menggunakan dua proposisi Greenstein sebagai dasar analisis terhadap para calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. Analisis diarahkan pada kepribadian dan kompetensi kandidat, dengan asumsi bahwa perilaku politik—termasuk kepemimpinan—dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan lingkungan.
Tim peneliti menelusuri latar belakang dan sepak terjang para kandidat sebelum mencalonkan diri, serta membuat prediksi mengenai perilaku politik mereka apabila terpilih. Selain itu, dilakukan pula pemetaan potensi dan masalah Jakarta untuk melihat tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang gubernur.
Hasil pemetaan tersebut telah dipublikasikan di harian Kompas pada Sabtu (23/6) dan Minggu. Dari tuntutan yang teridentifikasi, dirumuskan kompetensi ideal gubernur, lalu dibandingkan dengan kompetensi yang dimiliki para calon gubernur DKI Jakarta.
Analisis profil kompetensi kandidat dan kesesuaiannya dengan tuntutan masyarakat Jakarta disusun berdasarkan sejumlah data: tuntutan warga terhadap kompetensi gubernur; perilaku dan orientasi politik warga yang memengaruhi partisipasi dalam demokrasi serta penerapan kebijakan di Jakarta; profil kompetensi yang diperlukan untuk mengatasi masalah dan mengaktualisasi potensi Jakarta; serta profil kepribadian calon gubernur DKI Jakarta 2012 yang diperoleh melalui analisis perilaku politik, kepribadian, biografi, dan rekam tayang masing-masing calon.

