JAKARTA – Ahli Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menyatakan penyaluran bantuan sosial (bansos) menjelang pemungutan suara Pilpres 2024 menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi preferensi pemilih. Ia menekankan, bansos yang dipolitisasi dapat menjadi persoalan bagi demokrasi.
Dalam keterangannya pada sidang sengketa Pilpres 2024 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (2/4/2024), Hamdi memaparkan hasil meta-analisis yang dilakukannya. Menurut dia, bansos berperan sekitar 29 persen terhadap faktor penentu preferensi pemilih, yang menunjukkan adanya korelasi antara bansos dan dukungan politik masyarakat.
“Ini berarti secara umum peningkatan bantuan sosial berkorelasi dengan peningkatan perilaku voting, kepercayaan dan dukungan dari penerima manfaat,” ujar Hamdi.
Hamdi menjelaskan, sekitar 71 persen faktor lainnya dipengaruhi beragam aspek, antara lain ketokohan, kesukaan, agama, faktor sosiologis, pengaruh teman, analisis pemilih terhadap kemampuan pasangan calon, kampanye, dan faktor lain.
Ia juga menyebut Pilpres 2024 di Indonesia memiliki kemiripan dengan pesta demokrasi di Nigeria, di mana penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) disebut dapat meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap petahana.

