Psikolog Politik UI: Bansos Berkorelasi dengan Preferensi Pemilih pada Pemilu 2024

Psikolog Politik UI: Bansos Berkorelasi dengan Preferensi Pemilih pada Pemilu 2024

JAKARTA — Ahli Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menyatakan peningkatan bantuan sosial (bansos) berkorelasi dengan meningkatnya perilaku memilih, kepercayaan, dan dukungan politik dari penerima manfaat. Menurutnya, fenomena bantuan sosial memiliki peranan cukup signifikan dalam memengaruhi preferensi pemilih pada Pemilu 2024.

Pernyataan itu disampaikan Hamdi saat dihadirkan sebagai ahli oleh pemohon Ganjar-Mahfud dalam sidang sengketa Pilpres 2024 perkara Nomor 2/PHPU.PRES-XXII/2024 di Mahkamah Konstitusi (MK). Hamdi memberikan keterangan dalam sidang yang dipimpin Ketua MK Suhartoyo di Gedung MK, Jakarta, Selasa (2/4/2024).

Hamdi menjelaskan, berdasarkan meta-analisis yang dilakukannya, bansos memiliki peranan sebesar 29% sebagai faktor yang menentukan preferensi pemilih. Ia menilai angka itu menunjukkan korelasi positif yang moderat antara bansos dan dukungan politik masyarakat.

“Ini berarti secara umum peningkatan bantuan sosial berkorelasi dengan peningkatan perilaku voting, kepercayaan, dan dukungan dari penerima manfaat,” kata Hamdi dalam persidangan.

Ia menambahkan, sekitar 71% preferensi pemilih ditentukan faktor lain, seperti ketokohan, rasa suka, agama, faktor sosiologis, pengaruh teman, analisis terhadap kemampuan pasangan calon, kampanye, dan faktor-faktor lainnya.

Hamdi juga menilai pemilu di Indonesia memiliki kemiripan dengan pemilu di Nigeria, di mana penyaluran Bantuan Langsung Tunai dikaitkan dengan meningkatnya kepuasan terhadap petahana. Ia merujuk riset Change & Oigbochie (2023) yang menyebut petahana dievaluasi secara positif oleh masyarakat dan program conditional cash transfers dapat membuat pemilih memantapkan preferensi politiknya.

Dalam beberapa studi, Hamdi mengatakan petahana bahkan digambarkan sebagai pihak yang “melakukan kebaikan seperti Sinterklas” sehingga kembali dipilih. Ia menilai politisasi bansos menjadi problematik dalam konteks demokrasi karena bansos hanya dapat dikendalikan oleh pihak yang memiliki otoritas, yakni petahana.

Hamdi menambahkan, meski petahana tidak maju pada Pemilu 2024, terdapat istilah “teman saya” atau “setengah petahana” yang ia kaitkan dengan majunya anak presiden sebagai calon wakil presiden. Menurutnya, hal itu dapat membangun opini publik bahwa “setengah petahana” mewakili petahana sehingga mekanisme psikologis kepuasan terhadap petahana dapat dikonversikan kepada sosok tersebut.