Promosi Judi Online dengan Deepfake Selebritas: Seberapa Efektif Mempengaruhi Calon Pemain?

Promosi Judi Online dengan Deepfake Selebritas: Seberapa Efektif Mempengaruhi Calon Pemain?

Promosi produk dengan menggandeng selebritas atau tokoh publik merupakan strategi yang lazim digunakan berbagai perusahaan. Pola serupa kini juga terlihat dalam iklan judi online yang banyak beredar di platform media sosial, meski praktik judi online merupakan bisnis ilegal di Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, judi online disebut telah berkembang menjadi bisnis ilegal berskala besar dengan perputaran uang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Untuk terus meraup keuntungan, pelaku judi online memanfaatkan berbagai cara guna menarik pemain baru, termasuk memasang iklan di media sosial.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin canggih dan mudah diakses turut dimanfaatkan dalam strategi pemasaran tersebut. Dalam kurun sekitar sebulan, Tim Cek Fakta Kompas.com memantau 115 akun Facebook yang mengiklankan 66 situs judi berbeda, dengan iklan-iklan yang dibuat menggunakan bantuan AI.

Sejumlah figur publik dari berbagai kalangan menjadi sasaran pencatutan identitas. Artis, politisi, atlet, influencer, jurnalis, hingga tokoh agama dimanipulasi melalui foto, video, maupun suara sehingga seolah-olah mempromosikan situs judi.

Riset Kompas.com juga menemukan 150 iklan situs judi yang dibuat dengan metode impersonasi tokoh. Dari temuan tersebut, selebritas Raffi Ahmad menjadi figur yang paling banyak diimpersonasi dalam promosi situs judi. Nama lain yang juga kerap digunakan antara lain kreator konten John LBF, tokoh agama Dennis Lim dan Ustaz Abdul Somad, serta selebritas Baim Wong.

Dosen sekaligus pakar pemasaran dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS), Catur Sugiarto, menilai keterlibatan figur publik—meski melalui manipulasi—dapat memengaruhi orang untuk mengenal, tertarik, hingga mencoba. Menurutnya, kelompok dengan literasi rendah, termasuk literasi digital yang kurang, cenderung lebih mudah percaya ketika informasi yang muncul menampilkan sosok artis atau selebritas.

“Orang-orang yang literasinya rendah, literasi digital kurang, informasi yang muncul apalagi dari artis, selebritas, dia langsung percaya. Apalagi didukung oleh teknologi AI ini ya,” kata Catur. Ia menambahkan, orang yang baru mendengar atau belum mengetahui tentang AI juga berpotensi langsung mempercayai konten semacam itu.