MAKASSAR—Universitas Bosowa (Unibos) menggelar Sidang Terbuka Senat dalam rangka Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Profesor di Gedung Balai Sidang 45, Selasa (31/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda akademik kampus dalam mendorong lahirnya gagasan strategis melalui forum ilmiah.
Acara tersebut dihadiri Kepala LLDIKTI Wilayah IX Dr. Andi Lukman, M.Si., Ketua BPH Asrul Hidayat, Sekretaris Yayasan Aksa Mahmud H. Baharuddin Rachim, Ketua Senat Prof. Dr. Ir. Batara Surya, S.T., M.Si., serta jajaran senat, dosen, dan keluarga besar profesor yang dikukuhkan.
Dalam sidang itu, Iskandar resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Sosiologi dengan kepakaran Sosiologi Pembangunan dan Perubahan Sosial. Akademisi kelahiran Makassar tersebut dikenal memiliki pengalaman di pendidikan tinggi, termasuk pernah menjabat Ketua LPPM STKS, Wakil Rektor I UTS Makassar, dan saat ini memimpin Program Studi Sosiologi Unibos.
Melalui orasi ilmiah berjudul “Pembangunan, Perubahan Sosial dan Masalah Sosial Perkotaan”, Prof. Iskandar menyoroti dampak pembangunan yang kerap luput dari perhatian, yakni munculnya persoalan sosial di wilayah perkotaan.
“Pembangunan nasional pada dasarnya merupakan proses transformasi sosial, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun di saat yang sama juga memicu perubahan sosial yang tidak selalu berjalan seimbang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dan modernisasi kerap berjalan beriringan dengan ketimpangan sosial, terutama di kawasan urban. Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan tingginya arus urbanisasi serta keterbatasan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan layanan sosial bagi kelompok rentan.
Lebih lanjut, Prof. Iskandar menilai persoalan sosial perkotaan, termasuk di Makassar, merupakan konsekuensi dari pembangunan yang belum sepenuhnya inklusif. Ia menekankan, masalah tersebut tidak semestinya dipahami semata sebagai isu ketertiban, melainkan sebagai refleksi ketimpangan struktural dan eksklusi sosial.
“Masalah sosial perkotaan membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih adaptif, inklusif, dan berkeadilan, agar tidak memperlebar kesenjangan di tengah masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan paradigma pembangunan yang lebih berorientasi pada manusia, dengan memperkuat integrasi sosial serta memberikan perlindungan kepada kelompok rentan agar tidak tertinggal dalam arus perubahan.
Pengukuhan tersebut menjadi tonggak bagi Prof. Iskandar sekaligus bagi Unibos dalam memperkuat kontribusi akademik terhadap isu-isu sosial kontemporer. Melalui penguatan keilmuan di bidang sosiologi pembangunan, Unibos menegaskan komitmennya untuk terus berperan sebagai perguruan tinggi yang adaptif dan kritis.

