Film Horor “Aku Harus Mati” Angkat Isu Pinjol dan Tekanan Sosial, Tetap Andalkan Jumpscare Rapat

Film Horor “Aku Harus Mati” Angkat Isu Pinjol dan Tekanan Sosial, Tetap Andalkan Jumpscare Rapat

Jakarta — Film horor Aku Harus Mati disebut tidak hanya mengandalkan ketegangan melalui jumpscare, tetapi juga membawa pesan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Hal itu disampaikan perwakilan produser dari Rollink Action, Iwet Ramadhan, dalam konferensi pers pada Sabtu, 4 April 2026.

Iwet mengatakan film tersebut memang dirancang untuk memberi pengalaman takut yang intens kepada penonton. Ia menyebut jumpscare dalam film dibuat “rapat” sebagai bagian dari upaya menghadirkan horor yang benar-benar terasa.

Meski demikian, ia menegaskan ada misi lain di balik pilihan pendekatan tersebut. Menurut Iwet, Rollink Action berkomitmen menghadirkan cerita yang kuat dengan pesan yang dalam, yang diambil dari kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.

Selain menghadirkan hiburan, pihaknya juga menyatakan ingin mendorong perkembangan industri ekonomi kreatif dengan memberi ruang bagi kreator, bintang, dan aktor agar dapat berkembang.

Iwet menjelaskan, keputusan mengangkat genre horor juga didasarkan pada data minat penonton di Indonesia yang dinilai masih tinggi terhadap film dengan unsur ketegangan. Ia menyebut perusahaan berangkat dari latar advertising dan media yang kuat dengan data insight, serta menyinggung data yang dirilis GoodStats terkait tingginya minat masyarakat terhadap film horor.

Dalam ceritanya, Aku Harus Mati mengangkat isu sosial berupa fenomena pinjaman online (pinjol) dan tekanan sosial di masyarakat, dengan tagline “Jual Jiwa Demi Harta”. Iwet menyampaikan keprihatinannya terhadap banyak orang yang terjerat pinjol maupun layanan sejenis, termasuk paylater.

Ia menilai, sebagian kasus bukan semata karena kebutuhan, melainkan dipicu tekanan sosial untuk mendapat validasi dan pengakuan dari lingkungan sekitar. Kondisi itu, menurutnya, dapat mendorong seseorang menghalalkan berbagai cara demi terlihat “keren” dan dipandang.

Iwet menambahkan, persoalan validasi sosial memiliki akar panjang dalam budaya masyarakat. Ia menyebut fenomena itu pernah muncul dalam bentuk pesugihan, yang kemudian diangkat ke konteks modern melalui pinjol dan paylater dalam film ini.

Terkait sumber cerita, Iwet menyatakan film tersebut terinspirasi dari kisah nyata yang banyak terjadi di masyarakat. Ia menekankan pengalaman serupa dialami banyak orang, terutama terkait maraknya pinjol.

Meski mengangkat isu serius, ia menegaskan film tetap mengedepankan unsur hiburan agar mudah diterima penonton. Tantangan yang dihadapi tim produksi, kata dia, adalah menyisipkan pesan secara jelas tanpa terkesan menggurui.