Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Turun ke Level Terendah, Ini Lima Indikator Warga Kelas Bawah

Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Turun ke Level Terendah, Ini Lima Indikator Warga Kelas Bawah

Presiden Prabowo Subianto menyatakan tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia terus menurun hingga mencapai level terendah. Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Minggu (25/1/2026).

Penurunan kemiskinan ekstrem menjadi salah satu fokus pemerintah, seiring upaya berkelanjutan untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Dalam melihat posisi ekonomi seseorang, terdapat sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelompok kelas menengah bawah maupun kelas bawah.

Mengacu pada analisis GoBankingRates, ada lima ciri yang kerap melekat pada segmen masyarakat kelas menengah bawah dan kelas bawah. Indikator tersebut mencakup aspek-aspek mendasar dalam kehidupan sehari-hari.

1. Tempat tinggal
Biaya tempat tinggal sering menjadi pengeluaran terbesar keluarga. Kesulitan untuk tinggal di rumah yang nyaman dan aman, serta berada di lingkungan yang layak, dapat menjadi indikator kuat bahwa seseorang berada pada kelompok kelas menengah bawah atau kelas bawah.

2. Pekerjaan
Jenis pekerjaan kerap mencerminkan status ekonomi. Pekerjaan “kerah biru” seperti pelayan restoran, sopir truk, pegawai ritel, pekerja manufaktur, dan jasa kebersihan umumnya diasosiasikan dengan posisi ekonomi yang lebih rendah.

Nathan Brunner, CEO Salarship, menyebut seseorang dianggap berada di kelas menengah jika bekerja dalam posisi manajerial atau pekerjaan spesialis. Sebaliknya, pekerjaan yang hanya membutuhkan keahlian rendah atau bersifat sementara dengan upah minim dan sedikit tunjangan cenderung menempatkan pekerjanya pada status sosial kelas bawah.

Namun, beberapa profesi seperti guru, perawat, akuntan, dan pekerja IT dapat berada di antara kelas pekerja atau kelas menengah, bergantung pada tingkat senioritas dan sertifikasi. Bahkan, sebagian karier “kerah putih” yang dipandang bergengsi pun bisa menawarkan gaji yang tergolong sedang, sehingga pekerjanya tetap berada dalam kehidupan kelas menengah.

3. Tabungan dan investasi
Kemampuan menabung dan berinvestasi menjadi penopang penting untuk membangun kekayaan jangka panjang sekaligus cadangan keuangan. Bagi kalangan kelas bawah, membangun cadangan finansial semacam itu sering kali sulit dilakukan.

Ketika seseorang tidak memiliki tabungan yang memadai atau rencana pensiun yang jelas, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi kuat bahwa mereka berada dalam golongan kelas bawah.

4. Gaya hidup
Gaya hidup dapat mencerminkan stabilitas finansial. Kemampuan berlibur setiap tahun, sering makan di luar, atau membeli barang baru tanpa kekhawatiran berlebihan menunjukkan adanya ruang anggaran untuk pengeluaran nonkebutuhan.

Jika aktivitas semacam itu terasa berat karena keterbatasan anggaran, hal tersebut bisa menjadi tanda seseorang berada di kelas bawah. Meski pengelolaan anggaran yang cerdas dapat membantu, kebebasan ekonomi untuk sesekali menikmati pengeluaran tambahan lebih sering mencerminkan stabilitas yang umumnya dimiliki kelas menengah.

5. Pendidikan
Tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai kerap digunakan sebagai indikator posisi ekonomi. Memiliki gelar sarjana, misalnya, sering dikaitkan dengan kategori kelas menengah.

Pendidikan tinggi umumnya membuka peluang menuju pekerjaan dengan gaji lebih baik. Namun, hambatan sistemik dapat membuat individu dari kelas bawah kesulitan mengakses pendidikan. Ketika biaya kuliah dipandang terlalu mahal dan tidak terjangkau, kondisi itu dapat menjadi salah satu tanda seseorang berada di kelas bawah.