Perubahan Iklim Disebut Berpotensi Memperparah Krisis Pangan dan Risiko Stunting

Perubahan Iklim Disebut Berpotensi Memperparah Krisis Pangan dan Risiko Stunting

Setiap 21 Juni, dunia memperingati Hari Krida Pertanian (HKP) sebagai bentuk penghargaan terhadap peran petani dan sektor pertanian dalam kehidupan manusia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Krida Pertanian sejak 1979, dengan tujuan mengapresiasi posisi petani sekaligus memotivasi penguatan sektor pertanian dalam menghadapi persoalan pangan dan pengurangan kemiskinan.

Peringatan ini berlangsung di tengah kekhawatiran global terkait perubahan iklim yang dinilai mengancam pemenuhan kebutuhan pangan dunia dan memunculkan berbagai dampak turunan. Sejumlah ahli pertanian dan pemimpin dunia disebut mendorong penggunaan teknologi pertanian modern yang ramah lingkungan serta praktik berkelanjutan untuk menjaga produksi pangan.

Dalam artikel penelitian yang dimuat di New England Journal of Medicine pada 2019, Andy Haines menyebut kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer telah mencapai sekitar 410 PPM (part per million). Gas rumah kaca ini disebut dapat bertahan di atmosfer hingga 1.000 tahun dan mempercepat pemanasan global. Dampaknya terlihat di berbagai wilayah, salah satunya Australia yang pada Januari 2019 mengalami suhu musim panas hingga mencapai 40 derajat Celsius.

Sejumlah pakar perubahan iklim juga memperkirakan bahwa menjelang akhir abad ini, beberapa wilayah dapat menghadapi enam bencana alam sekaligus akibat perubahan iklim. Bencana yang dimaksud mencakup gelombang panas dan kebakaran, hingga hujan lebat serta ombak besar yang menghantam kawasan pantai. Franklin (2018) menyebut manusia berpotensi menghadapi bencana besar yang dipicu interaksi berbagai peristiwa alam seiring meningkatnya suhu bumi.

Contoh dampak tersebut disebut terjadi di Florida pada 2018, ketika wilayah itu mengalami musim kering panjang, suhu panas yang mencapai rekor, lebih dari 100 kebakaran hutan, serta badai Michael yang disebut sebagai badai terkuat yang pernah menghantam kawasan tersebut. Selain bencana alam, perubahan iklim juga dinilai dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan pada manusia.

Salah satu risiko kesehatan yang disorot adalah heat stroke, yakni kondisi ketika suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius akibat paparan suhu lingkungan yang ekstrem. Kondisi ini dapat memicu mual, kejang, hilang kesadaran, hingga kematian. Kasus heat stroke massal dilaporkan terjadi di India pada 2015 dengan sekitar 2.000 korban meninggal. Pada tahun-tahun berikutnya, heat stroke disebut masih menelan korban sekitar 1.000 hingga 1.500 jiwa per tahun.

Risiko lain yang disebut meningkat adalah diare dan malaria. Cuaca panas dapat menyebabkan sumber air berkurang dan menjadi tempat konsentrasi kuman, sehingga berpotensi memicu diare, terutama pada musim kemarau.

Di luar dampak langsung, perubahan iklim juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko stunting pada anak. Stunting adalah kondisi hambatan pertumbuhan pada bayi atau anak yang membuat tinggi badannya lebih pendek dibanding rata-rata anak seusianya. Kementerian Kesehatan RI menyebut stunting bukan kelainan genetik, melainkan akibat kekurangan gizi kronis. Anak dengan stunting umumnya kekurangan nutrisi penting seperti lemak, karbohidrat, dan protein.

Haines menyatakan perubahan iklim berpeluang menyebabkan gagal panen dan mengganggu pasokan pangan dunia. Dalam situasi krisis pangan, kelompok berpenghasilan rendah disebut berisiko kesulitan memperoleh makanan bergizi, mengalami malnutrisi, dan pada akhirnya meningkatkan risiko stunting pada anak.

Selain ketersediaan pangan, perubahan iklim juga disebut dapat memengaruhi kualitas gizi komoditas. Artikel jurnal yang dipublikasikan Fanzo dan Downs menyebut kandungan gizi sejumlah tanaman dapat menurun drastis akibat perubahan iklim. Contohnya padi, yang jika ditanam pada kondisi konsentrasi karbon dioksida tinggi, nilai gizinya disebut menurun. Zhu juga menyampaikan bahwa padi yang ditanam dengan konsentrasi CO2 sangat tinggi berpotensi mengalami penurunan vitamin B1, B2, B5, dan B9 (folat), padahal folat merupakan salah satu unsur gizi yang dibutuhkan balita.

Di tingkat nasional, Aceh disebut termasuk provinsi dengan angka stunting tinggi, yakni 31,2% dan berada pada peringkat lima secara nasional. Dalam konteks penanggulangan, pemerintah disebut telah mengalokasikan dana desa sebagai prioritas untuk penanganan stunting dalam lima tahun terakhir.

Namun, data yang dikutip dari cnnindonesia.com menyebut sekitar 80% alokasi dana stunting habis untuk rapat dan perjalanan dinas, sementara 20% digunakan untuk kebutuhan gizi masyarakat. Dalam pemberitaan tersebut, dana desa dinilai semestinya dapat mendorong perbaikan gizi masyarakat pedesaan melalui penyediaan bahan makanan bergizi serta edukasi diversifikasi pangan.

Artikel tersebut juga menyoroti kecenderungan pemanfaatan dana desa yang lebih banyak diarahkan pada pembangunan sarana fisik dibanding pembangunan sumber daya manusia. Mengacu pada Notoatmodjo (1998), unsur penting dalam program pembangunan adalah keragaman dan ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni. Gizi yang baik disebut menjadi faktor utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia, termasuk untuk mendukung pembangunan fisik yang membutuhkan tenaga dan kompetensi yang andal.

Di sisi lain, masa depan sektor pertanian juga dikaitkan dengan menurunnya minat generasi muda untuk berkecimpung di bidang agraris. Peringatan Hari Krida Pertanian kembali menjadi pengingat tentang pentingnya memperkuat ketahanan sektor pertanian di tengah ancaman perubahan iklim, sekaligus memastikan kebijakan dan program gizi berjalan efektif untuk melindungi generasi mendatang.