Peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa sebuah “armada” AS sedang bergerak menuju Iran memicu kekhawatiran meningkatnya risiko aksi militer di Timur Tengah. Situasi tersebut turut mendorong harga minyak menguat, seiring pasar menimbang potensi gangguan pasokan global.
“Kami sedang mengawasi Iran,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, Kamis waktu setempat. “Kami punya banyak kapal yang bergerak ke arah sana untuk berjaga-jaga. Armada besar sedang menuju kawasan itu dan kita akan lihat apa yang terjadi.”
Trump juga kembali menegaskan agar Teheran tidak menghidupkan kembali program nuklirnya, sejalan dengan pernyataannya kepada CNBC saat Forum Ekonomi Dunia pada awal pekan ini.
Harga minyak yang sebelumnya sempat turun sekitar 2 persen berbalik menguat pada Jumat pagi. Minyak mentah Brent acuan internasional kontrak Maret naik 1,8 persen menjadi 65,20 dollar AS per barel pada pukul 13.04 waktu London. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak Maret naik 1,8 persen menjadi 60,44 dollar AS per barel.
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya jumlah korban akibat tindakan keras aparat Iran terhadap demonstrasi nasional. Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 5.002 orang tewas dan hampir 27.000 orang ditangkap. HRANA merupakan organisasi nirlaba yang terdaftar di AS dan mengandalkan jaringan aktivis di dalam Iran.
Aksi protes yang dimulai di bazar Teheran pada 28 Desember dipicu oleh kekecewaan publik terhadap krisis ekonomi berkepanjangan, terutama anjloknya nilai mata uang dan melonjaknya harga kebutuhan pokok.
Trump sempat melunakkan nadanya pekan lalu dengan mengatakan bahwa “pembunuhan telah berhenti”, berdasarkan informasi dari “sumber-sumber sangat penting” di Teheran. Namun, peringatan terbarunya—disertai peningkatan kehadiran angkatan laut AS di kawasan Teluk—kembali membuat pelaku pasar energi waspada.
Iran, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), merupakan pemain penting di pasar minyak global dengan produksi lebih dari 3 juta barel minyak mentah per hari.
Tiga skenario aliran minyak Iran
Direktur riset Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) Rystad Energy, Aditya Saraswat, menyebut terdapat tiga skenario utama bagi aliran minyak Iran: mempertahankan kondisi saat ini, mencapai kemajuan dalam negosiasi dengan pemerintahan Trump, atau menghadapi perubahan rezim akibat intervensi AS.
Menurut Saraswat, taktik lama Iran seperti menutup Selat Hormuz, mengandalkan perdagangan dengan China, dan mengancam eskalasi nuklir masih mungkin digunakan, tetapi berisiko berbalik merugikan rezim.
Selat Hormuz—yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab—merupakan salah satu jalur terpenting bagi perdagangan minyak dunia. Penutupan selat tersebut, bahkan untuk sementara, berpotensi memicu lonjakan harga energi global, kenaikan biaya pengapalan, dan keterlambatan pasokan.
Saraswat menilai salah satu faktor penyangga bagi Iran saat ini adalah peran China sebagai tujuan utama ekspor minyaknya. Ia menyebut sekitar 90 persen ekspor minyak Iran mengalir ke China, termasuk sebagian kargo yang secara resmi tercatat menuju “tujuan tidak diketahui”. Model ekspor ini dinilai masih dapat bertahan dalam jangka pendek, namun keberlanjutannya semakin bersyarat.
Pasar dinilai masih kelebihan pasokan
Sejumlah analis energi mengatakan kepada CNBC bahwa pasar bersiap menghadapi volatilitas harga lebih lanjut akibat ketegangan geopolitik. Namun, mereka menilai kecil kemungkinan serangan militer AS berdampak besar terhadap produksi minyak Iran.
Dalam catatan 16 Januari, analis Fitch Ratings menyatakan gangguan signifikan terhadap produksi minyak Iran memang dapat mendorong harga naik, tetapi dampaknya tetap terbatas karena pasar global saat ini kelebihan pasokan.
CEO perusahaan minyak Arab Saudi Aramco, Amin Nasser, juga menilai sektor energi tetap tangguh menghadapi berbagai guncangan. Dalam wawancara dengan CNBC, ia menyebut pasar minyak saat ini “terpasok dengan baik”. Menurutnya, jika melihat satu dekade terakhir dan berbagai gangguan yang terjadi, pasar tetap mampu bertahan karena sumber pasokan yang tersebar.

