Peringatan P.K. Ojong di Tengah Dunia Retak: Strategi Politik Perang dan Ujian Bebas-Aktif Indonesia

Peringatan P.K. Ojong di Tengah Dunia Retak: Strategi Politik Perang dan Ujian Bebas-Aktif Indonesia

Ada kalimat yang terasa seperti ketukan pelan di dada ketika nama P.K. Ojong kembali dibicarakan. Bukan karena nostalgia, melainkan karena dunia seperti mengulang pola lama.

Itulah yang membuat tulisan tentang buku Perang Eropa menjadi tren. Ia memantulkan kecemasan publik, saat berita global terasa makin dekat ke ruang keluarga.

Di Google Trends, orang mencari bukan hanya siapa Ojong. Mereka mencari pegangan, ketika kata “perang” kembali menjadi kosakata harian, bukan catatan sejarah.

-000-

Mengapa isu ini menjadi tren

Alasan pertama adalah relevansi yang menampar. Ojong menulis tentang keangkuhan, salah kalkulasi, dan kegagalan membaca pergeseran kekuatan global.

Ketika publik melihat rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, perang di Ukraina, dan ketegangan Laut China Selatan, peringatan itu terasa seperti ditulis untuk hari ini.

Alasan kedua adalah kegelisahan tentang posisi Indonesia. Dalam dunia yang terbelah, negara menengah sering dipaksa memilih, atau ditinggal dari meja perundingan.

Kegelisahan itu menemukan bentuknya pada pertanyaan sederhana. Apakah Indonesia masih bisa “bebas-aktif” tanpa sekadar menjadi penonton yang sopan.

Alasan ketiga adalah munculnya sinyal diplomatik baru dari Presiden Prabowo Subianto sejak Oktober 2024. Kunjungan ke Washington, Beijing, Moskwa, dan Paris memicu tafsir.

Publik membaca pola, meski arsitekturnya belum sepenuhnya jelas. Ketika arah belum terang, orang cenderung mencari rujukan sejarah yang memberi struktur.

-000-

P.K. Ojong dan monumen peringatan bernama sejarah

Dalam narasi tentang Eropa, Ojong tidak sekadar menghitung tanggal dan meriam. Ia menelusuri bagaimana peradaban bisa runtuh karena rangkaian keputusan yang tampak masuk akal.

Di situlah daya guncangnya. Perang besar, dalam tesis yang disorot tulisan ini, tidak lahir dari rasionalitas dingin, melainkan akumulasi miskalkulasi.

Nasionalisme menebalkan keyakinan diri. Aliansi semu memberi rasa aman palsu. Ilusi superioritas membuat negara mengira lawan akan mundur.

Lalu, semua melangkah sekaligus. Dan sejarah mencatat, langkah serempak itu sering terjadi ketika masing-masing pihak justru merasa sedang mencegah perang.

Ojong, pendiri Kompas, menulis bukan semata historiografi. Ia menulis sebagai peringatan, seolah berkata bahwa tragedi sering dimulai dari keyakinan berlebihan.

-000-

Struktur “sosiologi politik perang” yang terasa berulang

Tulisan yang menjadi rujukan menekankan “struktur” yang berulang. Blok-blok antagonistik terbentuk, masing-masing mengukur lawan dengan asumsi, bukan empati strategis.

Dalam gambaran hari ini, NATO meluas ke timur dan Rusia merespons dengan agresi ke Ukraina. Tiongkok memperluas klaim maritim dengan logika “fait accompli”.

Amerika Serikat digambarkan makin transaksional, sehingga tak lagi otomatis menjadi jangkar ketertiban liberal. Tatanan multilateral pun terlihat tergerus.

Aliansi baru muncul, seperti AUKUS, Quad, dan I2U2. Sementara format lama seperti G7 disebut kehilangan daya ikat globalnya.

Poin yang paling mencemaskan adalah nasib negara menengah. Mereka sering tidak punya ruang gerak, karena tekanan datang dari banyak arah sekaligus.

Di ruang sempit itulah Indonesia berdiri. Dan publik membaca bahwa ruang sempit itu bukan sekadar soal diplomasi, tetapi soal ekonomi, energi, dan keamanan.

-000-

Ujian bebas-aktif: dari slogan ke kerja keras

Bebas-aktif, sebagaimana disebut dalam tulisan rujukan, berarti bebas dari penjajahan blok dan aktif membangun perdamaian dunia. Maknanya bukan netral yang diam.

Namun “aktif” hari ini tidak cukup hanya hadir di forum multilateral. Dunia menuntut posisi substantif, karena keputusan nyata sering diambil di luar podium resmi.

Di sinilah gerak Prabowo dibaca. Kunjungan ke berbagai pusat kekuatan menunjukkan kesadaran bahwa formula lama yang pasif bisa membuat Indonesia terlambat.

Berulang kali ke Paris juga memancing rasa ingin tahu. Publik melihat diplomasi tidak lagi sekadar protokol, melainkan upaya menyusun jejaring dan opsi.

Meski begitu, ketidakjelasan di mata publik adalah bagian dari masalah. Dalam demokrasi, arah besar perlu dipahami agar dukungan dan pengawasan bisa seimbang.

-000-

Kaitan dengan isu besar Indonesia: kedaulatan, ekonomi, dan posisi tawar

Isu ini menjadi besar karena menyentuh tiga lapisan kepentingan Indonesia. Pertama, kedaulatan dan keamanan, terutama ketika kawasan maritim disebut dalam ketegangan.

Kedua, ekonomi dan rantai pasok. Rivalitas kekuatan besar kerap berujung pada pembatasan teknologi, sanksi, dan fragmentasi perdagangan yang memukul negara berkembang.

Ketiga, martabat dan posisi tawar. Negara menengah yang tidak sigap bisa berubah dari subjek menjadi objek, dari perunding menjadi yang diperundingkan.

Dalam konteks itu, peringatan Ojong bukan sekadar cerita Eropa. Ia menjadi cermin tentang bagaimana keputusan elite, bila salah hitung, menimbulkan biaya sosial panjang.

-000-

Riset yang relevan: mengapa miskalkulasi mudah terjadi

Ilmu hubungan internasional lama menaruh perhatian pada “security dilemma”. Ketika satu negara merasa memperkuat pertahanan, negara lain membaca itu sebagai ancaman.

Spiral kecurigaan pun terjadi, meski niat awalnya defensif. Kerangka ini membantu memahami mengapa blok, aliansi, dan pengerahan kekuatan sering memicu reaksi berantai.

Ada juga riset tentang miskomunikasi dan salah persepsi dalam krisis. Ketika informasi tidak simetris dan pemimpin terjebak bias, keputusan cepat mudah melenceng.

Riset lain membahas bagaimana nasionalisme dan politik domestik mendorong kebijakan luar negeri yang keras. Pemimpin sering terdorong tampil tegas demi legitimasi di dalam negeri.

Dalam bahasa Ojong yang dikutip lewat tulisan rujukan, perang besar tidak lahir dari satu tombol. Ia lahir dari akumulasi, dari kebiasaan meremehkan risiko.

-000-

Rujukan luar negeri yang menyerupai: ketika blok dan salah hitung menutup jalan

Sejarah internasional menunjukkan pola serupa dalam berbagai krisis. Banyak peristiwa memperlihatkan bagaimana aliansi, ketegangan, dan persepsi salah bisa membawa dunia ke tepi jurang.

Perbandingan yang sering dibahas para sejarawan adalah situasi menjelang Perang Dunia, ketika blok-blok terbentuk dan negara mengira lawan akan mengalah.

Rujukan lain adalah krisis keamanan era Perang Dingin, ketika rivalitas kekuatan besar membuat negara lain terjepit. Logika blok kerap menutup ruang kompromi.

Namun pelajaran utamanya bukan menyamakan detail peristiwa. Pelajaran utamanya adalah mengenali mekanisme, yakni eskalasi yang lahir dari rasa aman palsu.

Di titik itu, tulisan tentang Ojong menjadi relevan bagi pembaca Indonesia. Ia menawarkan bahasa untuk membaca pola, tanpa harus menjadi ahli strategi militer.

-000-

Bagaimana sebaiknya isu ini ditanggapi

Pertama, perbanyak literasi publik tentang geopolitik dengan bahasa yang jernih. Ketika isu global hanya hadir sebagai sensasi, masyarakat mudah terseret polarisasi.

Kedua, dorong transparansi arah kebijakan luar negeri tanpa menuntut detail yang membahayakan diplomasi. Publik berhak memahami tujuan, prinsip, dan batas yang dijaga.

Ketiga, perkuat diplomasi yang benar-benar “aktif”. Artinya membangun jejaring, memperluas ruang dialog, dan menjaga otonomi keputusan, terutama sebagai negara menengah.

Keempat, rawat multilateralitas yang masih berfungsi, sambil realistis terhadap erosi tatanan. Ketika aturan melemah, negara yang siap biasanya yang bertahan.

Kelima, hindari bahasa kebencian dan romantisasi perang. Ojong mengingatkan bahwa perang bukan panggung heroik, melainkan mesin yang melumat generasi.

-000-

Penutup: peringatan yang tidak ingin menjadi nubuat

Tren ini pada akhirnya adalah tanda bahwa publik Indonesia sedang mendengar bunyi retak dunia. Mereka mencari cara agar Indonesia tidak terseret oleh salah hitung orang lain.

Peringatan Ojong terasa mendesak karena ia berbicara tentang watak manusia dan negara. Keangkuhan dan ilusi selalu datang dengan wajah baru.

Jika diplomasi adalah seni menghindari tragedi, maka membaca sejarah adalah disiplin untuk menahan diri. Kita tidak bisa mengendalikan dunia, tetapi bisa mengendalikan kewaspadaan.

Dan mungkin, itu inti yang diam-diam ingin disampaikan. “Sejarah memberi kita kesempatan kedua, bila kita cukup rendah hati untuk belajar.”