Film Pengepungan di Bukit Duri mencatat capaian penonton yang menonjol sejak penayangan perdananya. Dalam waktu 10 hari, film ini berhasil menembus satu juta penonton. Hingga awal Juni 2025, jumlah penonton terus bertambah dan mencapai 1,89 juta, menempatkannya sebagai salah satu produksi lokal paling sukses tahun ini.
Perhatian terhadap film ini juga didorong oleh ketersediaannya di layanan OTT global, yang membuka akses lebih luas bagi penonton internasional untuk mengenal kisah yang sarat kritik sosial tersebut.
Dibintangi sejumlah aktor papan atas, film ini mengisahkan Edwin, seorang guru pengganti yang terjebak dalam situasi mencekam di sebuah sekolah. Cerita berlatar tahun 2027 dengan nuansa distopia, ketika diskriminasi dan ketegangan sosial memuncak hingga berujung pada pengepungan.
Selain menghadirkan ketegangan khas thriller, Pengepungan di Bukit Duri menyodorkan refleksi atas kondisi sosial. Konflik utama dalam film ini disebut tidak sepenuhnya lahir dari rekaan, melainkan berakar dari peristiwa nyata yang pernah disaksikan langsung oleh sutradara Joko Anwar.
Dalam podcast Panggil Saya BTP yang dirilis pada 16 April, Joko Anwar menceritakan pengalaman semasa SMA ketika ia melihat teman-temannya kerap melakukan kekerasan terhadap kelompok ras tertentu. Ia menilai tindakan diskriminatif itu terjadi berulang kali.
“Mereka melakukan kegiatan yang terlihat telah sering dilakukan. Mereka hunting ‘anak Cina’ untuk dipukulin. Mereka tarik anaknya, lalu pukulin. Saya pada saat itu bingung dan shock, itu mengganggu sampai saya dewasa,” ungkap Joko.
Ia menambahkan, “Jadi film ini adalah penebusan dosa saya, di film ini juga ada karakter yang mewakili hal saya rasakan kala itu.”

