Persoalan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dinilai masih menjadi hambatan besar bagi pembangunan rumah subsidi. Kondisi ini disebut mengganggu pasokan lahan yang dapat dikembangkan pengembang, terutama di wilayah dengan kebutuhan rumah tinggi.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Deddy Indrasetiawan mengatakan, sejumlah pengembang sudah membeli lahan yang semula berada di zona yang diizinkan untuk pembangunan perumahan. Namun, status lahan tersebut kemudian berubah seiring penerapan aturan LSD, sehingga tidak dapat dibangun.
Akibatnya, sebagian pengembang disebut mengalami tekanan finansial karena tidak bisa membangun maupun menjual rumah di atas lahan yang sudah terlanjur dibeli. “Sebenarnya bukan kolaps, mereka udah dicekek gitu, udah di ujung. Jadi mereka hanya menghabiskan lahan yang ada, tapi lahan yang mereka sudah beli itu terkena LSD,” kata Deddy kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Menurut Deddy, para pengembang merasa telah mengikuti ketentuan tata ruang daerah saat melakukan pembelian. Ia mencontohkan, lahan yang dibeli berada di zona kuning atau zona perumahan, namun belakangan masuk kategori LSD sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk pembangunan.
“Padahal kami membeli tanah itu bukan kami mengubah alih fungsi. Kami sudah melihat secara tata ruang daerah itu zona kuning, zona perumahan. Tapi peraturan katanya mau diberlakukan surut, ini bingung juga kita,” ujarnya.
APERSI memperkirakan tantangan terbesar akan terjadi di Jawa Barat dan Banten. Kedua wilayah tersebut merupakan salah satu pusat pembangunan rumah subsidi, sehingga perubahan kebijakan tata ruang dinilai berdampak langsung pada aktivitas pengembang. Deddy menyebut Banten, terutama Kabupaten Tangerang, menjadi salah satu area yang paling berat terdampak.
Selain ketidakpastian status lahan, pengembang juga masih menghadapi persoalan lain, mulai dari proses perizinan hingga terbatasnya lahan yang siap dibangun. Deddy mengatakan situasi tersebut ikut memengaruhi kinerja sektor perumahan subsidi.
Ia menambahkan, pencapaian target rumah subsidi pada semester pertama disebut turun 24% dibandingkan tahun sebelumnya. “Salah satunya terkait ketersediaan lahan, selain perizinan dan material naik,” katanya.